Dia
menyeruput minumannya sambil sesekali memandangi jalanan seperti sesuatu
pemandangan yang sayang sekali untuk dilewatkan, bahkan ketika temannya
mengajaknya bicara ia tetap tak mengubah pandangannya. Karena ia tahu apa yang
sedang dibicarakan oleh temannya adalah apa yang tidak ingin dia mengerti dan
dia dengar. Dia hanya sesekali menanggapinya dengan anggukan. Teman dadakannya
ini sedang in love dengan salah satu band asal kota ini jadi dia selalu
membicarakan mereka seolah dia memujanya. Tak peduli dimana dan dalam kondisi
seperti apa, terkadang Jaclyn juga penasaran seperti apa rupa band ini sehingga
membuat temannya kebakaran jenggot jika menyangkut band ini. Sampai pada suatu
waktu saat Jaclyn dan kakaknya sedang konser ia bertemu langsung dengan band
ini, namun bukan pertemuan indah yang bisa dikenang melainkan pertemuan yang
memalukan bahkan ketika Jaclyn mengingat itu ia merasa sangat bodoh dan tolol. Kejadian
itu terjadi ketika ia dan kakaknya selesai konser, waktu itu ia tinggal
sendirian diruang ganti karena kakaknya bilang sedang mendapat telfon penting
yang mengharuskannya keluar ruangan. Sambil menunggu kedatangan kakaknya ia
berniat untuk mendengarkan music sambil latihan sebelum menjalani loud tour
konser berikutnya, sayangnya hpnya berada didalam tasnya yang ia sampirkan
digantungan dekat pintu. Ketika ia ingin mengambil tasnya, sesuatu berwarna
coklat, kecil sedang berlari mengitari tasnya dengan cepat. Ia berteriak ketika
menyadari bahwa benda berwarna coklat kecil itu adalah kecoa. Ia panik, berjalan
mondar mandir mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membunuh kecoa itu
karena ia sangat membenci hewan serangga dan hewan melata. Baginya mereka
sangat menjijikkan. Sampai akhirnya ia menemukan sapu untuk memukul kecoa itu
hingga rata kalau perlu. Dengan sangat perlahan ia melangkah, tak ingin
mengacaukan rencana kriminalnya. Ketika ia sudah sangat dekat dengan tasnya dan
sepertinya si-kecoa juga tidak menyadari kehadirannya dengan tidak bergerak
namun tetap sesekali menggerakkan kedua antenanya. Ia sudah mengangkat sapu itu
tinggi-tinggi, mengumpulkan tenaga untuk memukulnya sekeras mungkin namun
keberuntungan menghampiri kecoa itu. Pintu terbuka secara tiba-tiba dan
kecoanya berlari menjauh dari Jaclyn, membuatnya berbalik dan melampiaskan rasa
jijiknya dengan memukul sekuat tenaga. Namun ternyata ia salah persepsi, yang
ia pukul dengan sekuat tenaga bukanlah kecoa melainkan manusia tampan dengan
dua saudaranya berdiri dibelakangnya menatap Jaclyn dengan mulut menganga dan
baru ia sadari bahwa yang ia pukul adalah Connors Mcdonough (salah satu anggota
band before you exit yang terkenal dikota ini) setelah kedatangan Jane (teman
dadakannya yang memuja band ini) yang sudah diduga akan menghebohkan seantero
dunia. Itulah pertemuan pertamanya dengan Mcdonough bersaudara dan Jaclyn
mengakui bahwa mereka berbeda dari laki-laki lain pada umumnya, mereka tampan, tinggi,
bertubuh sixpack, berpenampilan rupawan dan bersuara merdu.
####
Sudah seminggu lamanya ia dan kakaknya berada dikota ini (Diluar Negri), jauh dari tanah kelahiran mereka,jauh dari keluarga dan kerabatnya.Ia mencoba terlihat senang dan menikmati konser tour kali ini. Namun sesuatu hal mengganggu fikirannya yang membuatnya tak nyaman. Sesuatu hal yang semakin difikirkan semakin menimbulkan suatu gejolak dalam hatinya. Ketika ia mencoba mencari tahu ia semakin terjerat dalam rasa keingintahuannya, membuatnya semakin terpuruk dalam suasana hatinya dan memperburuk kondisi tubuhnya.
Sudah seminggu lamanya ia dan kakaknya berada dikota ini (Diluar Negri), jauh dari tanah kelahiran mereka,jauh dari keluarga dan kerabatnya.Ia mencoba terlihat senang dan menikmati konser tour kali ini. Namun sesuatu hal mengganggu fikirannya yang membuatnya tak nyaman. Sesuatu hal yang semakin difikirkan semakin menimbulkan suatu gejolak dalam hatinya. Ketika ia mencoba mencari tahu ia semakin terjerat dalam rasa keingintahuannya, membuatnya semakin terpuruk dalam suasana hatinya dan memperburuk kondisi tubuhnya.
“Kau
terlihat kacau..!” Kata Jane saat ia selesai konser
“Benarkaah?”
“Ya..Dilihat
dari penampilanmu tadi.Kau buruk sekali dalam bernyanyi, terutama saat nada
tinggi yang kau nyanyikan, itu tidak seperti suaramu, lebih terlihat kau
memaksakan nafasmu yang tidak sampai. Dan yang lebih buruk, kau tiba-tiba
memelankan suaramu pada nada tertentu hingga menyerupai gumaman, aku tidak tahu
apa yang kau fikirkan tapi yang jelas itu semua mempengaruhi perform-mu..”
Jelasnya panjang lebar
Jaclyn
mengingat kejadian tadi, dimana saat Mcdonough bersaudara duduk dibangku
penonton. Dan si-sulung Connors sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam
dan tangan bersedekap dengan perban yang membalut sekitar kepalanya.
Mata azure1 milik Connors
menusuk tajam kedalam mata hitam milik Jaclyn yang membuatnya tak bisa berkutik
dan berpaling. Terjebak dikedalaman mata azure milik Connors, ia tersesat dan
tak bisa berfikir dengan jernih. Jantungnya bergetar hebat dan keringat dingin
sedikit membasahi tubuhnya. Ia memegang mic dengan sedikit bergetar dan
suaranya tertelan oleh kerasnya getaran jantungnya, tatapan Connors membutakan
seluruh indranya.
“Yaaah..Aku
sedikit kehilangan konsentrasi tadi..” kata Jaclyn ketika ia sudah mulai kembali
dalam kesadarannya.
Jane
menoleh kearah Jaclyn dan menilitinya, Jaclyn memang baik baik saja namun
sepertinya dia sedang kehilangan semangatnya. “Ehm…Bagaimana kalau sedikit
refreshing,makan malam mungkin.Dan sepertinya kau membutuhkan itu agar
konser-mu selanjutnya berjalan lancar.”
########
Malam harinya ia memenuhi ajakan Jane untuk makan malam, mungkin ia memang membutuhkan sedikit hiburan dan kesenangan mengingat fikiran dan suasana hatinya yang sedang kalut. Ia ingin all out malam ini, melepaskan semua beban dan fikirannya. Namun yang terjadi justru diluar dugaan , Mcdonough bersaudara datang ke-restoran yang sama dan duduk satu meja dengannya. Jaclyn menatap Jane yang sedang duduk tersenyum-senyum disebelahnya, ini semua pasti ulah Jane.
########
Malam harinya ia memenuhi ajakan Jane untuk makan malam, mungkin ia memang membutuhkan sedikit hiburan dan kesenangan mengingat fikiran dan suasana hatinya yang sedang kalut. Ia ingin all out malam ini, melepaskan semua beban dan fikirannya. Namun yang terjadi justru diluar dugaan , Mcdonough bersaudara datang ke-restoran yang sama dan duduk satu meja dengannya. Jaclyn menatap Jane yang sedang duduk tersenyum-senyum disebelahnya, ini semua pasti ulah Jane.
“Kulihat
kau sedikit kacau, jadi ku-undang mereka bertiga agar fikiranmu bisa jernih
melihat pemandangan indah. Atau mungkin kau bisa berkenalan dengan 2 adik
Connors..” Ucapnya berbisik ditelinga Jaclyn
Ingin
rasanya Jaclyn memukul Jane dengan haknya yang tinggi dan berteriak pada Jane
bahwa Connors-lah penyebab kekacauan dirinya. Namun ia melihat Jane yang sedang
curi-curi pandang kearah Connors sampai kemudian ia membuka suara “Kenapa
kalian tidak memperkenalkan diri kalian masing-masing?”
Connors
menaikkan sebelah alisnya, kemudian menatap adiknya.
“Ehm..Kakakku
Connors, adikku Toby, dan namaku Rilley Mcdonough..” katanya sambil memperkenalkan 2 saudaranya.
“Nama
yang bagus, Namaku Janine Weigel biasa dipanggil Jane dan ini..” Jane menunjuk
kearah Jaclyn “Jaclyn Davies, temanku.Yah sebenarnya kami baru berkenalan waktu
2loud tour konser pertama kami dikota ini..”
Connors
menatap Jaclyn lekat-lekat, sementara Jaclyn hanya bisa menunduk tak berani
menatap mata azure milik Connors karena ia tak mau tersesat lebih jauh lagi.
“Jadi kau kakak beradik Davies itu??” Tanya Connors yang sukses membuat Jane
melongo dan membuat jantung Jaclyn seakan ingin melompat keluar setelah
mendengar suara baritone3 nya.
Jaclyn
tak mampu berkata-kata, ia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dan tiba-tiba ia
teringat kejadian memalukan diruang ganti yang membuat Connors membalut
kepalanya dengan perban sampai berhari-hari lamanya, namun malam ini tidak ada
perban yang menghias kepalanya. Ia terlihat tampan dengan rambut blonde4
tanpa perban. “Ma…Ma-afkan aku atas kejadian diruang ganti itu..” Jaclyn
berkata dengan menunduk tanpa berani menatap Connors maupun 2 saudaranya.
Hening,tidak
ada respon yang ia dengar dari Connors namun ia merasakan bahwa ia sedang
ditatap tajam oleh seseorang. Connors-kah yang menatapnya? marah-kah dia
padanya? ia mulai mendengar debaran jantungnya sendiri. Adakah magnet yang
tersembunyi antara Jaclyn dan Connors sehingga setiap Connors menatap tajam
kearah Jaclyn, jantungnya langsung bereaksi hebat, bahkan bukan hanya jantung
namun organ-organ tubuh yang lain menjadi sedikit tidak berfungsi seperti ia
mati rasa jika menyangkut Connors.
Tanpa
disangka-sangka seseorang menarik paksa pergelangan tanganya. Ia bahkan belum
sempat bereaksi namun orang itu sudah menyeretnya menjauh dari restaurant
ketempat yang sedikit sepi dan berangin. Rambut Jaclyn tertiup angin dan
menutupi sedikit matanya, ia berusaha menyingkirkan rambutnya yang menghalangi
penglihatannya namun gagal karena kerap kali angin-angin kencang itu
menghembuskan lebih banyak rambutnya, ia sedikit merasa kesal. Namun tiba-tiba
rambutnya terselip rapi dibalik telinganya karena sentuhan lembut tangan
seseorang yang menyeretnya dengan paksa. Ia mendongak dan matanya kembali
bertemu dengan mata tajam azure itu, kenapa pandangannya tak bisa selembut
warna matanya. Lagi, seakan ada tarikan magnet yang ditimbulkan tatapan itu
pada Jaclyn.
Dengan
cepat, Connors menarik Jaclyn kedalam pelukannya. Seolah mendapat sengatan
listrik, tubuh Jaclyn menegang dan terasa kaku, jantungnya berdebar semakin
keras sehingga ia menduga Connors bisa merasakan debaran jantungnya karena
ia-pun merasakan debaran jantung Connors. Ingin rasanya ia menamparnya dan
mencaci-maki karena sembarangan memeluk orang, nyatanya tidak. Ia tidak bisa
melakukan itu pada Connnors karena Jaclyn menikmati moment ini dan tanpa sadar
tangannya balas memeluk Connors.
‘Jaclyn,
dimana harga dirimu? Kau biarkan orang lain memelukmu dengan mudahnya?’ hati
Jaclyn berteriak pada dirinya sendiri
‘Tidak,
dia bukan orang lain, dia adalah bagian hatimu yang selama ini berusaha kau
cari tahu.’ Sisi lain dari hati Jaclyn juga ikut berteriak
‘Jika
ia bagian dari hatimu yang selama ini hilang, kenapa dia selalu memberikan
tatapan tajam padamu?. Jika ia memang mencintaimu seharusnya ia memberikan
tatapan dan sikap lembut padamu dan ia juga tidak mengungkapkan perasaanya
padamu selama ini. Dia tampan dan terkenal, pasti banyak yang menyukai. Kau
bukan levelnya, kau hanya penyanyi acoustic amatiran.’ Jleb, seakan baru saja
ia dihempaskan kembali kebumi yang sebelumnya dilambungkan kelangit. Sontak ia
melepaskan pelukannya dan sedikit mundur, tanpa sadar apa yang ia lakukan
Jaclyn memegang dadanya yang terasa sesak dan ia bisa merasakan sebuah cincin
yang ia kalungkan dilehernya.
Connors
melihat ekspresi Jaclyn yang tampak sedih dan sedikit kalut. Nafasnya sedikit
terengah engah sambil memegangi dadanya, kilatan cahaya emas terpancar dari
lehernya yang sedikit tertutupi oleh tangan Jaclyn. Namun Connors bisa melihat
bahwa kilatan cahaya emas itu adalah kalung dan samar-samar ia melihat bentuk bandulnya
yang menyerupai sebuah cincin. Dia menatap Jaclyn dengan tidak percaya
“ka-kauu..? kata-katanya tertelan oleh rasa keterkejutannya, ia tak mampu
mengeluarkan kata-katanya sehingga ia hanya bisa menatap Jaclyn dan liontin itu
secara bergantian dengan pandangan tak percaya.
Jaclyn memegangi dadanya yang sesak
semakin erat sehingga seperti terlihat bahwa ia sedang berusaha menyembunyikan
liontin itu. Tanpa aba-aba ia berlari menjauh, meninggalkan Connors yang
terlihat lesu, antara kecewa dan tidak percaya.
####
Dua minggu berlalu sudah masa
konsernya dikota ini, itu artinya dia dan kakaknya akan segera meninggalkan
kota ini dan kembali kenegaranya. Ia sedang berlibur dengan kakaknya sebelum
kembali kenegaranya, namun ia tak bisa merasakan liburan. Bayangan kejadian
direstoran itu masih terngiang-ngiang dikepalanya dan berputar setiap kali ia
punya waktu senggang. Jaclyn mencoba melupakannya namun tak bisa seakan
kejadian itu permanen diotaknya. Dan perasaannya terhadap Connors tak bisa
dilupakan begitu saja. Ia ingin Connors tahu, dan ia ingin Connors membalas
perasaannya, namun siapa dirinya? Jaclyn merasa tidak pantas untuk Connors. Setiap
hari ia berusaha memikirkan itu, hingga ia melupakan dirinya sendiri.
Seringkali kakaknya, Megan
mendapati Jaclyn melamun dan terkadang suka mengurung diri, jarang makan dan
jarang berbicara. Ia suka berdiam diri dan melihat kearah jendela kamarnya,
melihat hamparan pemandangan kota dengan gedung tinggi dan seolah ia sedang
berfikir. Tidak ada yang menghiburnya, bahkan Jane teman akrabnya jarang
menghubunginya setelah makan malam antara mereka berdua dan kepulangan Jaclyn
yang lebih cepat dari dugaan Megan. Dia merasa
kasihan dengan Jaclyn, karena tanpa sadar Jaclyn menghancurkan dirinya
sendiri.
“Hey..” sapa Megan ketika Jaclyn
melihat kearah luar jendela kamarnya seperti biasa
Jaclyn menoleh dan melihat kakaknya
bersandar dipintu kamarnya.
Megan berjalan mendekat lalu duduk
ditepi ranjang “Apa yang sedang kau fikirkan?”
“Tidak ada..” Jawab Jaclyn lemah
“Aku kakakmu, aku mengenalmu lebih
dari siapapun..”
“Aku tahu.Tapi aku memang baik-baik
saja..” Jaclyn kembali melanjutkan aktifitasnya, berfikir sambil melihat keluar
jendela.
Megan mengehela nafas berat, ia
kenal adiknya, sangat kenal dan sangat tahu bahwa adiknya keras kepala. Sampai
mulutnya berbusa-pun adiknya akan tetap bungkam. “Aku tidak tahu apa yang
membuatmu seperti ini dan aku tidak tahu apa masalahmu dengan Jane, tapi Jane
memutuskan bahwa ia akan tinggal dikota ini.
Seperti suatu magnet dengan tarikan
kuat, Jaclyn berbalik lagi menghadap Megan “Untuk apa??..” tanyanya sambil
mengerutkan kening, tertarik dengan alasan Jane akan tinggal dikota ini.
Megan mengangkat bahu kemudian
berdiri dan langsung pergi meninggalkan Jaclyn yang terbengong, sambil berkata
“Tanyakan langsung padanya..” Megan mengenal adiknya, termasuk segala jenis
kekurangannya. Dan ini termasuk kekurangannya, memancing adiknya dengan orang-orang
yang dekat dengannya. Adiknya sangat peduli dengan apapun yang menyangkut orang
terdekatnya. “Jika kau punya masalah, selesaikan sekarang juga sebelum
menyesal. Mungkin saja kita akan berangkat besok pagi, karena aku sudah memesan
tiket untuk kita berdua.” Megan kembali muncul diambang pintu dan kata-katanya
sukses membuat adiknya menegang dengan wajah pucat bak mayat hidup.
####
Detik
berganti menit, menit berganti jam, silau cahaya matahari mulai menghilang
berganti dengan cahaya bulan yang lembut, namun Jaclyn masih tetap termenung
dengan kata-kata kakaknya tadi pagi, bimbang dengan apa yang harus dilakukannya.
Pantaskah setelah ia pergi begitu saja setelah ajakan makan malam Jane lalu
sekarang ia datang hanya untuk bertanya ‘apakah kau akan tinggal disini?’. Dan ‘Jika
kau punya masalah, selesaikan sekarang juga sebelum menyesal’ menyesal? Bahkan
setelah ia mengatakan perasaannya namun tiba-tiba ditolak oleh Connors
pantaskah ia menyesali perbuatannya?. Apakah dirinya seorang perempuan murahan
yang mengemis cinta pada seorang laki-laki?. Bagaimana jika perasaannya
dihancurkan oleh sekecap kata yang akan keluar dari mulut Connors. Namun akan lebih
hancur lagi jika ia memendamnya bertahun-tahun dan tak seorang-pun tahu, rasa
itu akan meremukkan hatinya hingga berkeping-keping secara perlahan jika ia
memendamnya berlama-lama, bahkan bisa saja rasa itu akan dibawanya hingga akhir
hayat dan hal itu akan menambah penderitaan selama hidupnya, sanggupkah ia
hidup dengan bayang-bayang cinta yang bersarang dihatinya?. Tidak, bukan
kehidupan seperti itu yang diinginkan Jaclyn, ia ingin menjalani hidup ini
dengan tenang tanpa bayangan atau tekanan apapun. Sayangnya ia tak tahu
bagaimana takdir tuhan yang telah digoreskan kepadanya.
Sampai ia terlelap dan terjaga dari
tidurnya hingga matahari kembali menampakkan diri dengan suasana yang berbeda. Silau
matahari menerobos masuk melalui jendelanya yang baru ia sadari telah terbuka,
menandakan seseorang baru saja memasuki kamarnya dan mencoba membangunkannya
dengan silau cahaya matahari.
“Kau sudah bangun??” suara
seseorang yang mengejutkannya
Jaclyn melihat sekeliling dan baru
menyadari bahwa Megan telah duduk disofa dengan penampilan rapi. Matanya
menghujam Jaclyn dengan pandangan menelisik. Jaclyn hanya mengangkat sebelah
alisnya untuk menanggapi kakaknya.
“Berkemaslah, kita berangkat
beberapa jam lagi..” katanya dengan nada lelah disela-sela suaranya.
Jaclyn menatap kepergian kakaknya
hingga menghilang dari pandangan, kemudian turun dari ranjang dan berdiri
didepan cermin menatap pantulan dirinya. Tanpa sadar ia meraba wajahnya sendiri
setelah melihat bayangannya didepan cermin. Ia hampir ketakutan melihat
bayangannya sendiri didepan cermin. Jaclyn tampak mengerikan dengan pipi yang semakin
tirus dan lingkaran hitam yang tampak nyata dibagian bawah matanya. Kemanakah
ia selama ini sehingga tidak menyadari perubahan pada dirinya sendiri?.
___0oo0oo0___
Jaclyn menuruni tangga dengan
menenteng koper yang berat, ia melihat kakaknya yang sudah lebih rapi daripada
saat dia baru bangun tidur, kakaknya sedang duduk disofa ruang tamu dan membaca
majalah. Berpura-pura tidak mengetahui kedatangan Jaclyn yang sebenarnya sangat
menganggu karena suara kopernya yang beradu dengan lantai tangga.
“Kita jadi pergi hari ini?” Tanya
Jaclyn sedikit sebal karena kakaknya yang memang sengaja tidak peduli
dengannya.
“Tentu saja.” Katanya sambil
menutup majalah dan berdiri sambil merapikan mantelnya yang sudah licin.
“Kecuali jika terjadi sesuatu yang mendesak..” lanjutnya sambil berlalu
meninggalkan Jaclyn yang kesusahan membawa kopernya.
Berusaha menahan suatu rasa yang
ingin meledak dalam hatinya, ia menarik koper dengan setengah hati, namun
tiba-tiba hpnya berdering dan memunculkan nama Jane di layar ponselnya. Ia
melirik kakaknya yang juga sedang menatapnya.
“Halo”
“Halo, Jaclyn. Kudengar kau akan
segera kembali. Aku mengadakan pesta disini, maukah kau datang ke sini? anggap
saja sebagai pesta pertemuan kita yang terakhir.” Terdengar suara Jane dari telphone
“Ya, aku akan pulang hari ini saat
kau sedang menelfon.”
“Oh..” terdengar desahan dari
telephone “Maafkan aku, tapi bisakah kau datang sebentar kesini?ada sesuatu yang
ingin aku tunjukkan padamu. Ayolah, kupastikan tidak akan memperlambat jam penerbanganmu.”
Jaclyn tampak berpikir, banyak yang
ingin ia tahu dari Jane namun bagaimana dengan kakaknya. Ia melihat kakaknya
namun kakaknya menolak untuk melihatnya. Jaclyn mendengus kesal. Ia berlari
melewati kakaknya dan mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.
Hanya membutuhkan waktu beberapa
menit untuk sampai dirumah Jane dan benar saja, ketika ia memasuki rumah Jane
sudah ada banyak orang. ’Untuk apa Jane mengadakan pesta?’. Ada banyak orang
yang tidak ia kenal disini, hanya beberapa yang ia tahu yaitu penyanyi acoustic
lain yang sempat konser dengannya namun Jaclyn tak mengetahui nama mereka jadi
ia hanya melewatinya dan berusaha mencari keberadaan Jane. Tiba-tiba seseorang
menepuk pundaknya, sontak ia menoleh dan dengan sedikit rasa terkejut ia
tersenyum kearah salah satu adik Connors yang paling muda dan ia sendiri lupa
namanya.
“Kau juga di undang kepesta ini?”
tanyanya sambil tersenyum menggemaskan kearah Jaclyn.
Sebenarnya dia menawan, namun bagi
Jaclyn senyuman itu terlihat menggemaskan.
“Ya..Emm,kau dan…” sedikit ragu
Jaclyn untuk mengeluarkan kata-katanya “Kakak-kakakmu?” dengan susah payah
Jaclyn mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.
Ia menatap Jaclyn sejenak sambil
menaikkan sebelah alisnya, namun kemudian ia menyunggingkan senyumnya yang
terlihat seperti senyum jahil bagi
Jaclyn.
“Kakakku Connors tentu ikut, kau
mau bertemu dengannya?” Tanpa aba-aba dia langsung menarik Jaclyn menuju sofa
disudut ruang tamu. Disana sedang duduk seseorang berambut blonde yang menutup
wajahnya dengan kedua tangan, dari gelagatnya dia terlihat bingung memikirkan
sesuatu.
Dengan ragu Jaclyn mendekat kearah Connors, seakan waktu bergerak semakin lambat karena ia merasa jauh untuk mencapai Connors yang bahkan ada didepan mata.
Dengan ragu Jaclyn mendekat kearah Connors, seakan waktu bergerak semakin lambat karena ia merasa jauh untuk mencapai Connors yang bahkan ada didepan mata.
“Jack…!” seru seseorang dari
belakang, Jaclyn menoleh dan ia melihat Jane yang nampak cantik dengan dress
warna cream, dia juga merasakan bahwa Connors sedang memandangnya dibalik
punggungnya.
“Oh..Hai Jane…” tangan Jaclyn
terulur ragu untuk memeluk Jane, alhasil dia Cuma menjabat tangan putih mulus
Jane. “Untuk apa kau mengadakan pesta?” pertanyaan itu meluncur saja dari
bibirnya.
“Emm..Untuk merayakan jadian-ku…”
Jane mengucapkannya dengan rasa bahagia
“Kaauuu???..Dengaan???”
Jane menunjuk kebalik punggung
Jaclyn dengan senyum yang mengembang lebar diwajahnya.
DEG!!!!...Seakan matahari berhenti
bersinar dan berharap cahaya bulan dapat menggantikan sinar matahari dan
memberikan kehidupan bagi bumi, sebesar itulah harapan Jaclyn bahwa yang dimaksud
bukanlah pujaan hatinya.Namun kenyataan tak bisa dibalik, Connors memandang
Jaclyn dengan rasa bersalah, Jaclyn sendiri tak akan mengerti arti pandangan
itu karena hatinya sudah remuk redam.
Connors melangkah maju namun
dicegah oleh Jaclyn, ia tak mau memperburuk suasana. Mengenal-nya sudah cukup
buruk, apalagi mencintainya.
Rasa
sakit dihatinya ikut dirasakan oleh seluruh tubuhnya, terutama matanya yang
tanpa bisa dicegah mengeluarkan air mata. Membuat setiap orang yang ada dipesta
memandangnya heran, namun ia tak ingin mengecewakan sahabatnya walau nyatanya
ia telah dihianati. Apapun yang dia rasakan, tak seorangpun tau dan mengerti.
“Selamat, kau pantas dengannya..”
Jaclyn memeluk Jane sambil tersenyum kearah Jane
Jaclyn berlari keluar rumah, tak meghiraukan seseorang yang menyerukan namanya. Ia hanya ingin segera pulang dan melupakan semua ini. Ketika ia sampai dijalan, ia melihat kakaknya sedang bersandar dimobil Jaclyn, menunggunya.
Jaclyn berlari keluar rumah, tak meghiraukan seseorang yang menyerukan namanya. Ia hanya ingin segera pulang dan melupakan semua ini. Ketika ia sampai dijalan, ia melihat kakaknya sedang bersandar dimobil Jaclyn, menunggunya.
“Jack…Kumohon dengarkan aku dulu.”
Suara seseorang yang ia yakini sebagai suara Connors, ia berbalik menghadap
Connors dengan derai air mata. “Semua itu tidak benar, aku tidak pacaran dengan
Jane..”
“Teganya kau mengatakan itu didepanku. Lalu kau akan mengatakan kau cinta Jane jika didepannya?”
“Teganya kau mengatakan itu didepanku. Lalu kau akan mengatakan kau cinta Jane jika didepannya?”
“Tidak..Bukan seperti itu, tolong
dengarkan aku..” Connors melangkah maju, hendak meyakinkan Jaclyn, namun Jaclyn
semakin melangkah mundur menjauh darinya.
“CUKUPP!!!...” Jaclyn berteriak
ditengah tangisannya “Biarkan aku pergi..”
“Tidak..Tidak…Kumohon…” Connors
tetap melangkah maju, bahkan ia sedikit memperpanjang langkah. Sementara Jaclyn
tak mau Connors mencapainya sehingga ia terus mundur sampai ditengah jalan
raya..
“JAACLYN!!!!..” Teriak Connors dan
Megan bersamaan
Braaak!!!,. Kejadian itu
berlangsung sangat cepat, bahkan mobil yang menabrak Jaclyn langsung pergi
begitu saja. Connors dan Megan berlari menuju Jaclyn yang terkulai dijalan
bersimbah darah, Connors menggapai Jaclyn terlebih dahulu dan memeluknya namun
Megan datang dan mengambil alih. Connors mencoba mendekat tapi “Pergi!!!..
Jangan dekati adikku.” Megan berteriak histeris sambil memeluk adiknya.
Kejadian ini langsung menarik perhatian orang disekitar dan orang yang berpesta
dirumah Jane.
“Jac, kumohon bangunlah. Bangunlah
demi kakak..” Megan berbisik berharap Jaclyn mendengarnya dan bangun walau
nyatanya tak mungkin “Bangun Jack, papa sudah menunggu kita.” Megan mulai
terisak pelan dan menelungkupkan kepalanya pada Jaclyn, membiarkan darah segar
yang mengalir dari kepala dan tangannya merembes sampai baju Megan, hampir membasahi
seluruh bagian depannya.
Sementara Connors hanya bisa
melihat Jaclyn yang tak sadarkan diri dengan penyesalan yang amat besar, ia
merasa tak berguna dan tak berdaya. Ia sangat menyesali kebodohannya, namun
apalah daya, waktu tidak bisa diputar dan kita tak bisa memperbaiki kesalahan
dimasa lalu, namun kita bisa memperbaikinya dimasa depan dengan menjadikan
kejadian ini sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga dan memulai sesuatu
yang baru dengan langkah yang lebih berhati-hati. Dan seakan langit ikut
merasakan kesedihan ini dengan berubahnya awan yang cerah menjadi mendung,
semendung hati Megan dan Connors yang kehilangan orang yang mereka sayangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar