Jumat, 01 Januari 2016

Cerita pendek

Ini adalah part 1 cerita pendek sebelum cerita bersambung milik saya.. Saya sarankan baca cerita saya yang ini dulu..

Dia menyeruput minumannya sambil sesekali memandangi jalanan seperti sesuatu pemandangan yang sayang sekali untuk dilewatkan, bahkan ketika temannya mengajaknya bicara ia tetap tak mengubah pandangannya. Karena ia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh temannya adalah apa yang tidak ingin dia mengerti dan dia dengar. Dia hanya sesekali menanggapinya dengan anggukan. Teman dadakannya ini sedang in love dengan salah satu band asal kota ini jadi dia selalu membicarakan mereka seolah dia memujanya. Tak peduli dimana dan dalam kondisi seperti apa, terkadang Jaclyn juga penasaran seperti apa rupa band ini sehingga membuat temannya kebakaran jenggot jika menyangkut band ini. Sampai pada suatu waktu saat Jaclyn dan kakaknya sedang konser ia bertemu langsung dengan band ini, namun bukan pertemuan indah yang bisa dikenang melainkan pertemuan yang memalukan bahkan ketika Jaclyn mengingat itu ia merasa sangat bodoh dan tolol. Kejadian itu terjadi ketika ia dan kakaknya selesai konser, waktu itu ia tinggal sendirian diruang ganti karena kakaknya bilang sedang mendapat telfon penting yang mengharuskannya keluar ruangan. Sambil menunggu kedatangan kakaknya ia berniat untuk mendengarkan music sambil latihan sebelum menjalani loud tour konser berikutnya, sayangnya hpnya berada didalam tasnya yang ia sampirkan digantungan dekat pintu. Ketika ia ingin mengambil tasnya, sesuatu berwarna coklat, kecil sedang berlari mengitari tasnya dengan cepat. Ia berteriak ketika menyadari bahwa benda berwarna coklat kecil itu adalah kecoa. Ia panik, berjalan mondar mandir mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membunuh kecoa itu karena ia sangat membenci hewan serangga dan hewan melata. Baginya mereka sangat menjijikkan. Sampai akhirnya ia menemukan sapu untuk memukul kecoa itu hingga rata kalau perlu. Dengan sangat perlahan ia melangkah, tak ingin mengacaukan rencana kriminalnya. Ketika ia sudah sangat dekat dengan tasnya dan sepertinya si-kecoa juga tidak menyadari kehadirannya dengan tidak bergerak namun tetap sesekali menggerakkan kedua antenanya. Ia sudah mengangkat sapu itu tinggi-tinggi, mengumpulkan tenaga untuk memukulnya sekeras mungkin namun keberuntungan menghampiri kecoa itu. Pintu terbuka secara tiba-tiba dan kecoanya berlari menjauh dari Jaclyn, membuatnya berbalik dan melampiaskan rasa jijiknya dengan memukul sekuat tenaga. Namun ternyata ia salah persepsi, yang ia pukul dengan sekuat tenaga bukanlah kecoa melainkan manusia tampan dengan dua saudaranya berdiri dibelakangnya menatap Jaclyn dengan mulut menganga dan baru ia sadari bahwa yang ia pukul adalah Connors Mcdonough (salah satu anggota band before you exit yang terkenal dikota ini) setelah kedatangan Jane (teman dadakannya yang memuja band ini) yang sudah diduga akan menghebohkan seantero dunia. Itulah pertemuan pertamanya dengan Mcdonough bersaudara dan Jaclyn mengakui bahwa mereka berbeda dari laki-laki lain pada umumnya, mereka tampan, tinggi, bertubuh sixpack, berpenampilan rupawan dan bersuara merdu.
####
            Sudah seminggu lamanya ia dan kakaknya berada dikota ini (Diluar Negri), jauh dari tanah kelahiran mereka,jauh dari keluarga dan kerabatnya.Ia mencoba terlihat senang dan menikmati konser tour kali ini. Namun sesuatu hal mengganggu fikirannya yang membuatnya tak nyaman. Sesuatu hal yang semakin difikirkan semakin menimbulkan suatu gejolak dalam hatinya. Ketika ia mencoba mencari tahu ia semakin terjerat dalam rasa keingintahuannya, membuatnya semakin terpuruk dalam suasana hatinya dan memperburuk kondisi tubuhnya.
“Kau terlihat kacau..!” Kata Jane saat ia selesai konser
“Benarkaah?”
“Ya..Dilihat dari penampilanmu tadi.Kau buruk sekali dalam bernyanyi, terutama saat nada tinggi yang kau nyanyikan, itu tidak seperti suaramu, lebih terlihat kau memaksakan nafasmu yang tidak sampai. Dan yang lebih buruk, kau tiba-tiba memelankan suaramu pada nada tertentu hingga menyerupai gumaman, aku tidak tahu apa yang kau fikirkan tapi yang jelas itu semua mempengaruhi perform-mu..” Jelasnya panjang lebar
Jaclyn mengingat kejadian tadi, dimana saat Mcdonough bersaudara duduk dibangku penonton. Dan si-sulung Connors sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam dan tangan bersedekap dengan perban yang membalut sekitar kepalanya.
            Mata azure1 milik Connors menusuk tajam kedalam mata hitam milik Jaclyn yang membuatnya tak bisa berkutik dan berpaling. Terjebak dikedalaman mata azure milik Connors, ia tersesat dan tak bisa berfikir dengan jernih. Jantungnya bergetar hebat dan keringat dingin sedikit membasahi tubuhnya. Ia memegang mic dengan sedikit bergetar dan suaranya tertelan oleh kerasnya getaran jantungnya, tatapan Connors membutakan seluruh indranya.
“Yaaah..Aku sedikit kehilangan konsentrasi tadi..” kata Jaclyn ketika ia sudah mulai kembali dalam kesadarannya.
Jane menoleh kearah Jaclyn dan menilitinya, Jaclyn memang baik baik saja namun sepertinya dia sedang kehilangan semangatnya. “Ehm…Bagaimana kalau sedikit refreshing,makan malam mungkin.Dan sepertinya kau membutuhkan itu agar konser-mu selanjutnya berjalan lancar.”
########
            Malam harinya ia memenuhi ajakan Jane untuk makan malam, mungkin ia memang membutuhkan sedikit hiburan dan kesenangan mengingat fikiran dan suasana hatinya yang sedang kalut. Ia ingin all out malam ini, melepaskan semua beban dan fikirannya. Namun yang terjadi justru diluar dugaan , Mcdonough bersaudara datang ke-restoran yang sama dan duduk satu meja dengannya. Jaclyn menatap Jane yang sedang duduk tersenyum-senyum disebelahnya, ini semua pasti ulah Jane.
“Kulihat kau sedikit kacau, jadi ku-undang mereka bertiga agar fikiranmu bisa jernih melihat pemandangan indah. Atau mungkin kau bisa berkenalan dengan 2 adik Connors..” Ucapnya berbisik ditelinga Jaclyn
Ingin rasanya Jaclyn memukul Jane dengan haknya yang tinggi dan berteriak pada Jane bahwa Connors-lah penyebab kekacauan dirinya. Namun ia melihat Jane yang sedang curi-curi pandang kearah Connors sampai kemudian ia membuka suara “Kenapa kalian tidak memperkenalkan diri kalian masing-masing?”
Connors menaikkan sebelah alisnya, kemudian menatap adiknya.
“Ehm..Kakakku Connors, adikku Toby, dan namaku Rilley Mcdonough..”  katanya sambil memperkenalkan 2 saudaranya.
“Nama yang bagus, Namaku Janine Weigel biasa dipanggil Jane dan ini..” Jane menunjuk kearah Jaclyn “Jaclyn Davies, temanku.Yah sebenarnya kami baru berkenalan waktu 2loud tour konser pertama kami dikota ini..”
Connors menatap Jaclyn lekat-lekat, sementara Jaclyn hanya bisa menunduk tak berani menatap mata azure milik Connors karena ia tak mau tersesat lebih jauh lagi. “Jadi kau kakak beradik Davies itu??” Tanya Connors yang sukses membuat Jane melongo dan membuat jantung Jaclyn seakan ingin melompat keluar setelah mendengar suara  baritone3 nya.
Jaclyn tak mampu berkata-kata, ia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dan tiba-tiba ia teringat kejadian memalukan diruang ganti yang membuat Connors membalut kepalanya dengan perban sampai berhari-hari lamanya, namun malam ini tidak ada perban yang menghias kepalanya. Ia terlihat tampan dengan rambut blonde4 tanpa perban. “Ma…Ma-afkan aku atas kejadian diruang ganti itu..” Jaclyn berkata dengan menunduk tanpa berani menatap Connors maupun 2 saudaranya.
Hening,tidak ada respon yang ia dengar dari Connors namun ia merasakan bahwa ia sedang ditatap tajam oleh seseorang. Connors-kah yang menatapnya? marah-kah dia padanya? ia mulai mendengar debaran jantungnya sendiri. Adakah magnet yang tersembunyi antara Jaclyn dan Connors sehingga setiap Connors menatap tajam kearah Jaclyn, jantungnya langsung bereaksi hebat, bahkan bukan hanya jantung namun organ-organ tubuh yang lain menjadi sedikit tidak berfungsi seperti ia mati rasa jika menyangkut Connors.
Tanpa disangka-sangka seseorang menarik paksa pergelangan tanganya. Ia bahkan belum sempat bereaksi namun orang itu sudah menyeretnya menjauh dari restaurant ketempat yang sedikit sepi dan berangin. Rambut Jaclyn tertiup angin dan menutupi sedikit matanya, ia berusaha menyingkirkan rambutnya yang menghalangi penglihatannya namun gagal karena kerap kali angin-angin kencang itu menghembuskan lebih banyak rambutnya, ia sedikit merasa kesal. Namun tiba-tiba rambutnya terselip rapi dibalik telinganya karena sentuhan lembut tangan seseorang yang menyeretnya dengan paksa. Ia mendongak dan matanya kembali bertemu dengan mata tajam azure itu, kenapa pandangannya tak bisa selembut warna matanya. Lagi, seakan ada tarikan magnet yang ditimbulkan tatapan itu pada Jaclyn.
Dengan cepat, Connors menarik Jaclyn kedalam pelukannya. Seolah mendapat sengatan listrik, tubuh Jaclyn menegang dan terasa kaku, jantungnya berdebar semakin keras sehingga ia menduga Connors bisa merasakan debaran jantungnya karena ia-pun merasakan debaran jantung Connors. Ingin rasanya ia menamparnya dan mencaci-maki karena sembarangan memeluk orang, nyatanya tidak. Ia tidak bisa melakukan itu pada Connnors karena Jaclyn menikmati moment ini dan tanpa sadar tangannya balas memeluk Connors.
‘Jaclyn, dimana harga dirimu? Kau biarkan orang lain memelukmu dengan mudahnya?’ hati Jaclyn berteriak pada dirinya sendiri
‘Tidak, dia bukan orang lain, dia adalah bagian hatimu yang selama ini berusaha kau cari tahu.’ Sisi lain dari hati Jaclyn juga ikut berteriak
‘Jika ia bagian dari hatimu yang selama ini hilang, kenapa dia selalu memberikan tatapan tajam padamu?. Jika ia memang mencintaimu seharusnya ia memberikan tatapan dan sikap lembut padamu dan ia juga tidak mengungkapkan perasaanya padamu selama ini. Dia tampan dan terkenal, pasti banyak yang menyukai. Kau bukan levelnya, kau hanya penyanyi acoustic amatiran.’ Jleb, seakan baru saja ia dihempaskan kembali kebumi yang sebelumnya dilambungkan kelangit. Sontak ia melepaskan pelukannya dan sedikit mundur, tanpa sadar apa yang ia lakukan Jaclyn memegang dadanya yang terasa sesak dan ia bisa merasakan sebuah cincin yang ia kalungkan dilehernya.
Connors melihat ekspresi Jaclyn yang tampak sedih dan sedikit kalut. Nafasnya sedikit terengah engah sambil memegangi dadanya, kilatan cahaya emas terpancar dari lehernya yang sedikit tertutupi oleh tangan Jaclyn. Namun Connors bisa melihat bahwa kilatan cahaya emas itu adalah kalung dan samar-samar ia melihat bentuk bandulnya yang menyerupai sebuah cincin. Dia menatap Jaclyn dengan tidak percaya “ka-kauu..? kata-katanya tertelan oleh rasa keterkejutannya, ia tak mampu mengeluarkan kata-katanya sehingga ia hanya bisa menatap Jaclyn dan liontin itu secara bergantian dengan pandangan tak percaya.
Jaclyn memegangi dadanya yang sesak semakin erat sehingga seperti terlihat bahwa ia sedang berusaha menyembunyikan liontin itu. Tanpa aba-aba ia berlari menjauh, meninggalkan Connors yang terlihat lesu, antara kecewa dan tidak percaya.
####
Dua minggu berlalu sudah masa konsernya dikota ini, itu artinya dia dan kakaknya akan segera meninggalkan kota ini dan kembali kenegaranya. Ia sedang berlibur dengan kakaknya sebelum kembali kenegaranya, namun ia tak bisa merasakan liburan. Bayangan kejadian direstoran itu masih terngiang-ngiang dikepalanya dan berputar setiap kali ia punya waktu senggang. Jaclyn mencoba melupakannya namun tak bisa seakan kejadian itu permanen diotaknya. Dan perasaannya terhadap Connors tak bisa dilupakan begitu saja. Ia ingin Connors tahu, dan ia ingin Connors membalas perasaannya, namun siapa dirinya? Jaclyn merasa tidak pantas untuk Connors. Setiap hari ia berusaha memikirkan itu, hingga ia melupakan dirinya sendiri.
Seringkali kakaknya, Megan mendapati Jaclyn melamun dan terkadang suka mengurung diri, jarang makan dan jarang berbicara. Ia suka berdiam diri dan melihat kearah jendela kamarnya, melihat hamparan pemandangan kota dengan gedung tinggi dan seolah ia sedang berfikir. Tidak ada yang menghiburnya, bahkan Jane teman akrabnya jarang menghubunginya setelah makan malam antara mereka berdua dan kepulangan Jaclyn yang lebih cepat dari dugaan Megan. Dia merasa  kasihan dengan Jaclyn, karena tanpa sadar Jaclyn menghancurkan dirinya sendiri.
“Hey..” sapa Megan ketika Jaclyn melihat kearah luar jendela kamarnya seperti biasa
Jaclyn menoleh dan melihat kakaknya bersandar dipintu kamarnya.
Megan berjalan mendekat lalu duduk ditepi ranjang “Apa yang sedang kau fikirkan?”
“Tidak ada..” Jawab Jaclyn lemah
“Aku kakakmu, aku mengenalmu lebih dari siapapun..”
“Aku tahu.Tapi aku memang baik-baik saja..” Jaclyn kembali melanjutkan aktifitasnya, berfikir sambil melihat keluar jendela.
Megan mengehela nafas berat, ia kenal adiknya, sangat kenal dan sangat tahu bahwa adiknya keras kepala. Sampai mulutnya berbusa-pun adiknya akan tetap bungkam. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini dan aku tidak tahu apa masalahmu dengan Jane, tapi Jane memutuskan bahwa ia akan tinggal dikota ini.
Seperti suatu magnet dengan tarikan kuat, Jaclyn berbalik lagi menghadap Megan “Untuk apa??..” tanyanya sambil mengerutkan kening, tertarik dengan alasan Jane akan tinggal dikota ini.
Megan mengangkat bahu kemudian berdiri dan langsung pergi meninggalkan Jaclyn yang terbengong, sambil berkata “Tanyakan langsung padanya..” Megan mengenal adiknya, termasuk segala jenis kekurangannya. Dan ini termasuk kekurangannya, memancing adiknya dengan orang-orang yang dekat dengannya. Adiknya sangat peduli dengan apapun yang menyangkut orang terdekatnya. “Jika kau punya masalah, selesaikan sekarang juga sebelum menyesal. Mungkin saja kita akan berangkat besok pagi, karena aku sudah memesan tiket untuk kita berdua.” Megan kembali muncul diambang pintu dan kata-katanya sukses membuat adiknya menegang dengan wajah pucat bak mayat hidup.
####
            Detik berganti menit, menit berganti jam, silau cahaya matahari mulai menghilang berganti dengan cahaya bulan yang lembut, namun Jaclyn masih tetap termenung dengan kata-kata kakaknya tadi pagi, bimbang dengan apa yang harus dilakukannya. Pantaskah setelah ia pergi begitu saja setelah ajakan makan malam Jane lalu sekarang ia datang hanya untuk bertanya ‘apakah kau akan tinggal disini?’. Dan ‘Jika kau punya masalah, selesaikan sekarang juga sebelum menyesal’ menyesal? Bahkan setelah ia mengatakan perasaannya namun tiba-tiba ditolak oleh Connors pantaskah ia menyesali perbuatannya?. Apakah dirinya seorang perempuan murahan yang mengemis cinta pada seorang laki-laki?. Bagaimana jika perasaannya dihancurkan oleh sekecap kata yang akan keluar dari mulut Connors. Namun akan lebih hancur lagi jika ia memendamnya bertahun-tahun dan tak seorang-pun tahu, rasa itu akan meremukkan hatinya hingga berkeping-keping secara perlahan jika ia memendamnya berlama-lama, bahkan bisa saja rasa itu akan dibawanya hingga akhir hayat dan hal itu akan menambah penderitaan selama hidupnya, sanggupkah ia hidup dengan bayang-bayang cinta yang bersarang dihatinya?. Tidak, bukan kehidupan seperti itu yang diinginkan Jaclyn, ia ingin menjalani hidup ini dengan tenang tanpa bayangan atau tekanan apapun. Sayangnya ia tak tahu bagaimana takdir tuhan yang telah digoreskan kepadanya.
Sampai ia terlelap dan terjaga dari tidurnya hingga matahari kembali menampakkan diri dengan suasana yang berbeda. Silau matahari menerobos masuk melalui jendelanya yang baru ia sadari telah terbuka, menandakan seseorang baru saja memasuki kamarnya dan mencoba membangunkannya dengan silau cahaya matahari.
“Kau sudah bangun??” suara seseorang yang mengejutkannya
Jaclyn melihat sekeliling dan baru menyadari bahwa Megan telah duduk disofa dengan penampilan rapi. Matanya menghujam Jaclyn dengan pandangan menelisik. Jaclyn hanya mengangkat sebelah alisnya untuk menanggapi kakaknya.
“Berkemaslah, kita berangkat beberapa jam lagi..” katanya dengan nada lelah disela-sela suaranya.
Jaclyn menatap kepergian kakaknya hingga menghilang dari pandangan, kemudian turun dari ranjang dan berdiri didepan cermin menatap pantulan dirinya. Tanpa sadar ia meraba wajahnya sendiri setelah melihat bayangannya didepan cermin. Ia hampir ketakutan melihat bayangannya sendiri didepan cermin. Jaclyn tampak mengerikan dengan pipi yang semakin tirus dan lingkaran hitam yang tampak nyata dibagian bawah matanya. Kemanakah ia selama ini sehingga tidak menyadari perubahan pada dirinya sendiri?.
___0oo0oo0___
Jaclyn menuruni tangga dengan menenteng koper yang berat, ia melihat kakaknya yang sudah lebih rapi daripada saat dia baru bangun tidur, kakaknya sedang duduk disofa ruang tamu dan membaca majalah. Berpura-pura tidak mengetahui kedatangan Jaclyn yang sebenarnya sangat menganggu karena suara kopernya yang beradu dengan lantai tangga.
“Kita jadi pergi hari ini?” Tanya Jaclyn sedikit sebal karena kakaknya yang memang sengaja tidak peduli dengannya.
“Tentu saja.” Katanya sambil menutup majalah dan berdiri sambil merapikan mantelnya yang sudah licin. “Kecuali jika terjadi sesuatu yang mendesak..” lanjutnya sambil berlalu meninggalkan Jaclyn yang kesusahan membawa kopernya.
Berusaha menahan suatu rasa yang ingin meledak dalam hatinya, ia menarik koper dengan setengah hati, namun tiba-tiba hpnya berdering dan memunculkan nama Jane di layar ponselnya. Ia melirik kakaknya yang juga sedang menatapnya.
“Halo”
“Halo, Jaclyn. Kudengar kau akan segera kembali. Aku mengadakan pesta disini, maukah kau datang ke sini? anggap saja sebagai pesta pertemuan kita yang terakhir.” Terdengar suara Jane dari telphone
“Ya, aku akan pulang hari ini saat kau sedang menelfon.”
“Oh..” terdengar desahan dari telephone “Maafkan aku, tapi bisakah kau datang sebentar kesini?ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Ayolah, kupastikan tidak akan memperlambat jam penerbanganmu.”
Jaclyn tampak berpikir, banyak yang ingin ia tahu dari Jane namun bagaimana dengan kakaknya. Ia melihat kakaknya namun kakaknya menolak untuk melihatnya. Jaclyn mendengus kesal. Ia berlari melewati kakaknya dan mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai dirumah Jane dan benar saja, ketika ia memasuki rumah Jane sudah ada banyak orang. ’Untuk apa Jane mengadakan pesta?’. Ada banyak orang yang tidak ia kenal disini, hanya beberapa yang ia tahu yaitu penyanyi acoustic lain yang sempat konser dengannya namun Jaclyn tak mengetahui nama mereka jadi ia hanya melewatinya dan berusaha mencari keberadaan Jane. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sontak ia menoleh dan dengan sedikit rasa terkejut ia tersenyum kearah salah satu adik Connors yang paling muda dan ia sendiri lupa namanya.
“Kau juga di undang kepesta ini?” tanyanya sambil tersenyum menggemaskan kearah Jaclyn.
Sebenarnya dia menawan, namun bagi Jaclyn senyuman itu terlihat menggemaskan.
“Ya..Emm,kau dan…” sedikit ragu Jaclyn untuk mengeluarkan kata-katanya “Kakak-kakakmu?” dengan susah payah Jaclyn mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.
Ia menatap Jaclyn sejenak sambil menaikkan sebelah alisnya, namun kemudian ia menyunggingkan senyumnya yang terlihat  seperti senyum jahil bagi Jaclyn.
“Kakakku Connors tentu ikut, kau mau bertemu dengannya?” Tanpa aba-aba dia langsung menarik Jaclyn menuju sofa disudut ruang tamu. Disana sedang duduk seseorang berambut blonde yang menutup wajahnya dengan kedua tangan, dari gelagatnya dia terlihat bingung memikirkan sesuatu.
Dengan ragu Jaclyn mendekat kearah Connors, seakan waktu bergerak semakin lambat karena ia merasa jauh untuk mencapai Connors yang bahkan ada didepan mata.
“Jack…!” seru seseorang dari belakang, Jaclyn menoleh dan ia melihat Jane yang nampak cantik dengan dress warna cream, dia juga merasakan bahwa Connors sedang memandangnya dibalik punggungnya.
“Oh..Hai Jane…” tangan Jaclyn terulur ragu untuk memeluk Jane, alhasil dia Cuma menjabat tangan putih mulus Jane. “Untuk apa kau mengadakan pesta?” pertanyaan itu meluncur saja dari bibirnya.
“Emm..Untuk merayakan jadian-ku…” Jane mengucapkannya dengan rasa bahagia
“Kaauuu???..Dengaan???”
Jane menunjuk kebalik punggung Jaclyn dengan senyum yang mengembang lebar diwajahnya.
DEG!!!!...Seakan matahari berhenti bersinar dan berharap cahaya bulan dapat menggantikan sinar matahari dan memberikan kehidupan bagi bumi, sebesar itulah harapan Jaclyn bahwa yang dimaksud bukanlah pujaan hatinya.Namun kenyataan tak bisa dibalik, Connors memandang Jaclyn dengan rasa bersalah, Jaclyn sendiri tak akan mengerti arti pandangan itu karena hatinya sudah remuk redam.
Connors melangkah maju namun dicegah oleh Jaclyn, ia tak mau memperburuk suasana. Mengenal-nya sudah cukup buruk, apalagi mencintainya.
            Rasa sakit dihatinya ikut dirasakan oleh seluruh tubuhnya, terutama matanya yang tanpa bisa dicegah mengeluarkan air mata. Membuat setiap orang yang ada dipesta memandangnya heran, namun ia tak ingin mengecewakan sahabatnya walau nyatanya ia telah dihianati. Apapun yang dia rasakan, tak seorangpun tau dan mengerti.
“Selamat, kau pantas dengannya..” Jaclyn memeluk Jane sambil tersenyum kearah Jane
Jaclyn berlari keluar rumah, tak meghiraukan seseorang yang menyerukan namanya. Ia hanya ingin segera pulang dan melupakan semua ini. Ketika ia sampai dijalan, ia melihat kakaknya sedang bersandar dimobil Jaclyn, menunggunya.
“Jack…Kumohon dengarkan aku dulu.” Suara seseorang yang ia yakini sebagai suara Connors, ia berbalik menghadap Connors dengan derai air mata. “Semua itu tidak benar, aku tidak pacaran dengan Jane..”
“Teganya kau mengatakan itu didepanku. Lalu kau akan mengatakan kau cinta Jane jika didepannya?”
“Tidak..Bukan seperti itu, tolong dengarkan aku..” Connors melangkah maju, hendak meyakinkan Jaclyn, namun Jaclyn semakin melangkah mundur menjauh darinya.
“CUKUPP!!!...” Jaclyn berteriak ditengah tangisannya “Biarkan aku pergi..”
“Tidak..Tidak…Kumohon…” Connors tetap melangkah maju, bahkan ia sedikit memperpanjang langkah. Sementara Jaclyn tak mau Connors mencapainya sehingga ia terus mundur sampai ditengah jalan raya..
“JAACLYN!!!!..” Teriak Connors dan Megan bersamaan
Braaak!!!,. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, bahkan mobil yang menabrak Jaclyn langsung pergi begitu saja. Connors dan Megan berlari menuju Jaclyn yang terkulai dijalan bersimbah darah, Connors menggapai Jaclyn terlebih dahulu dan memeluknya namun Megan datang dan mengambil alih. Connors mencoba mendekat tapi “Pergi!!!.. Jangan dekati adikku.” Megan berteriak histeris sambil memeluk adiknya. Kejadian ini langsung menarik perhatian orang disekitar dan orang yang berpesta dirumah Jane.
“Jac, kumohon bangunlah. Bangunlah demi kakak..” Megan berbisik berharap Jaclyn mendengarnya dan bangun walau nyatanya tak mungkin “Bangun Jack, papa sudah menunggu kita.” Megan mulai terisak pelan dan menelungkupkan kepalanya pada Jaclyn, membiarkan darah segar yang mengalir dari kepala dan tangannya merembes sampai baju Megan, hampir membasahi seluruh bagian depannya.
Sementara Connors hanya bisa melihat Jaclyn yang tak sadarkan diri dengan penyesalan yang amat besar, ia merasa tak berguna dan tak berdaya. Ia sangat menyesali kebodohannya, namun apalah daya, waktu tidak bisa diputar dan kita tak bisa memperbaiki kesalahan dimasa lalu, namun kita bisa memperbaikinya dimasa depan dengan menjadikan kejadian ini sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga dan memulai sesuatu yang baru dengan langkah yang lebih berhati-hati. Dan seakan langit ikut merasakan kesedihan ini dengan berubahnya awan yang cerah menjadi mendung, semendung hati Megan dan Connors yang kehilangan orang yang mereka sayangi.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar