My Soul #1 : Little sin
Prolog
He :
Aku tidak pernah berniat sedikit-pun melakukan itu padamu, semua itu berawal
dari kesalahpahaman dan aku tidak pernah menyangka dosa yang kuperbuat sangat
tak termaafkan dimasa lalu. Aku berusaha untuk memperbaikinya, memulainya dari
awal bersamamu tapi jika itu bukan keinginanmu, izinkan aku pergi dengan
separuh jiwa yang telah kau bawa dan catatan noda hitam yang takkan pernah bisa
terhapuskan seperti dosa-dosaku padamu.
She :
Aku mempercayaimu dengan segenap jiwa
dan ragaku, kubiarkan hatiku berlabuh padamu namun kenapa kau mematahkan
kepercayaanku dengan segala kebohongan dan kesakitan yang kau hadiahkan
kepadaku atas awal permulaan baru. Biarkan aku melupakanmu dengan segala
kepedihan yang telah kau sematkan
didalam lubuk hatiku yang paling dalam.
Prolog
Dilanda
rasa kepanikan dalam hatinya, Megan tak bisa tenang. Didalam ruangan yang bernuansa
putih itu adiknya sedang berjuang melawan kematian. Serentetan bermacam-macam
do’a ia panjatkan pada yang maha kuasa, namun itu tidak cukup untuk membuat
hatinya tenang. Megan tak akan
bisa bernafas lega sebelum memastikan tak ada cacat sekecil
apapun pada adiknya.
Ia
melirik Connors dan 2 saudaranya yang sedang duduk berpangku tangan dikursi
tunggu. Melihat Connors, seakan melihat hama menjijikkan yang membuat amarahnya
tersulut begitu saja. Connors-lah penyebab semua ini, Connors-lah penyebab kehancuran
adiknya. Ya, dia memang hama yang menularkan penyakit dan harus dijauhkan dari
jangkauan dan lebih baik lagi jika dimusnahkan.
Megan berjalan kearah Connors dan dua saudaranya
dengan perasaan yang berapi-api “Kauu!!!..” ia menunjuk tepat didepan wajah
Connors
Connors mendongak dan sedikit mundur ketika jari
telunjuk Megan hampir mengenai matanya
“Kau masih berani menampakkan wajah-mu di depan-ku
setelah apa yang kau lakukan pada adikku??”
Connors tampak kehabisan kata-kata, ia tak tahu
harus mulai darimana untuk menjelaskan pada Megan bahwa semua berawal dari
kesalahpahaman.
“Kau dan Jane, sama-sama busuknya. Kalian tega
menghianati adik-ku? Apa kesalahan adikku sehingga kalian membuatnya hancur
seperti itu?” Megan terus mendesak Connors dan menyudutkannya “Kau tahu, karena-mu
dia mengurung dirinya sendiri, terombang-ambing oleh perasaannya dan tertekan
oleh keadaan. Setelah dia hancur perlahan, kau datang memberikan sentuhan akhir
untuk mencelakakan adikku.” Megan tersenyum getir “Selamat. selamat kalian
hampir berhasil. Tapi adikku..” Megan menunjuk ruangan putih tempat adiknya
ditangani “Dia tak akan menyerah, dia akan berjuang dan menunjukkan pada-mu
bahwa tak mudah untuk membunuhnya..” Ucapnya dengan berapi-api dan hampir
setengah berteriak
Connors hampir putus asa menghadapi semua tuduhan
Megan, namun ia tetap harus menjelaskan karena memang didalam hatinya tak
pernah terlukiskan untuk mencelakai seseorang apalagi sampai membunuhnya “Aku
tak pernah berniat untuk mencelakainya. Ini semua berawal dari kesalahpahaman.”
Ucapnya dengan sedikit lesu.
“Bagian mana yang bisa disebut salah paham?. Kau
bahkan sudah tau kalau adik-ku menaruh hati padamu, tapi kau menolaknya dan
lebih memilih Jane. Dan dengan terang-terangan kau tunjukkan padanya bahwa kau
mencintai Jane disaat dia belum bisa melupakanmu. Itukah yang disebut salah
paham?”
Connors menggelengkan kepalanya, berusaha meyakinkan
Megan “Tidak, bukan seperti itu. Aku berfikir bahwa Jaclyn sudah…”
Terdengar suara pintu dibuka dari ruangan Jaclyn
yang memotong ucapan Connors, muncul seorang dokter tampan berwajah oriental.
Dokter itu tinggi dan gagah, tampak seperti seorang atlet daripada dokter.
Semua mata kini terfokus pada dokter itu, memandangnya dengan was-was.
Sementara si-dokter hanya bisa menghela nafas antara lega dan kecewa.
“Bagaimana dok?, bagaimana keadaan adik saya? Apakah
dia baik-baik saja? Apakah terjadi sesuatu dengan adik saya? Dia,,,dia selamat
kan dok?” Megan menyerbunya dengan
serentetan pertanyaan yang membuat sang dokter semakin terlihat resah, dokter
itu menundukkan kepalanya tak berani menatap siapapun.
“Adik anda selamat..”
Mereka menghela nafas lega secara bersamaan
“Tapiii, atas semua itu selalu ada akibat untuk
sebuah tindakan dan akibatnya adalah..adik anda
mungkin akan lumpuh….”
Seakan
dihantam palu godam yang bisa meremukkan jantungnya, Megan mengernyit dan
memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri dan matanya tanpa aba-aba
telah mengeluarkan cairan bening secara beruntun, ikut merasakan nyeri
didadanya hingga mengeluarkan air mata. Tidak hanya sampai disitu saja,
tubuhnya pun ikut melemah, sulit untuk digerakkan seakan kata-kata dokter itu
adalah mantra ajaib yang bisa melumpuhkannya dalam sekejap mata. Dan Megan
jatuh, merosot kelantai dengan memegangi dadanya dan air matanya terus mengalir
semakin deras membasahi wajahnya.
Bugh!!!,
dokter itu tersungkur dengan memegangi wajahnya yang baru saja dipukul dengan
keras oleh seseorang dan orang itu adalah Connors, yang menatap dokter dengan
emosi yang terpancar jelas dimatanya dan tangannya yang mengepal kuat. “Jangan
pernah berkata seperti itu sebelum anda berusaha dok, anda belum berusaha tapi
anda sudah menyerah..”
Dokter itu menatap
Connors dengan sendu, tak ada pancaran sinar kemarahan dimatanya, sepertinya dokter
itu menyadari akan perasaan Connors “Maafkan saya, tapi...memang hanya ini yang
bisa saya perbuat. Kasus seperti ini sudah sering terjadi dan semuanya berujung
pada akhir yang sama.”
Connors akan
merangsek maju, namun dihalangi oleh kedua saudaranya dan melihat hal itu
membuat Megan memiliki tenaganya kembali. Megan bangkit berdiri dan menampar
Connors sangat keras dengan seluruh luapan emosi yang ia tumpahkan “JAUHI
ADIKKU!!, JANGAN PERNAH KAU MUNCUL DALAM HIDUPNYA..” Teriak Megan yang hampir
menarik perhatian seluruh warga rumah sakit, dadanya naik turun karena luapan
emosi namun dia masih menyempatkan diri meneriaki dan menatap Connors dengan
seluruh kebencian yang dia punya. “Aku bersumpah..Selama aku masih hidup, tak
akan kubiarkan kau mendekati adikku..” lanjutnya kali ini namun dengan suara
yang hampir menyerupai desisan dan Connors hanya diam mematung, matanya menatap
lurus kedepan, mencerna setiap kata yang terucap keluar dari mulut Megan dan
setelah dia mengerti apa yang diucapkan Megan, dia menatap Megan dengan
pandangan tidak percaya dan mengatakan ‘kau pasti bercanda’. Namun Megan
benar-benar tidak bercanda, dia kembali berteriak pada Connors dan menyuruhnya
pergi.
Connors
pulang kerumah dengan lesu, tak punya tenaga hanya untuk sekedar berjalan.
Seakan Tuhan telah mencabut nyawanya dan hanya raganya yang tersisa, ia tak
mampu lagi untuk hidup. Hidup dengan raga, sementara jiwa-mu telah pergi atau
sebut saja sedang berjuang untuk bertahan hidup, sanggupkah ia menjalani
kehidupan seperti itu?. Dan jawabannya adalah tidak, bagi Connors ia tidak akan
mampu hidup tanpa adanya jiwa yang melengkapi raganya dan saat ini dia tidak
bertemu dengan belahan jiwanya, hal itu bagaikan hidup tanpa nyawa dan hidup
tanpa nyawa itu adalah mati.
Connors
setengah hancur waktu Megan melarang Connors datang menemui adiknya, namun
harapan tetap ada lewat kedua adiknya, ia selalu menyuruh salah satu adiknya
menjenguk Jaclyn, memberinya perkembangan yang sangat lambat tentang keadaan
Jaclyn. Connors tidak pernah berhenti berdoa pada Tuhan demi keselamatan
Jaclyn, hingga menghilangnya Jaclyn memutuskan semua harapan Connors.
Connors
benar-benar hancur total kala itu. Tidak pernah pulang kerumah, selalu
menghabiskan waktunya dijalan hanya untuk mencari Jaclyn namun ia tak pernah
menemukannya hingga akhirnya dia menyerah dengan kehidupan yang telah diberikan
Tuhan kepadanya. Connors menjalani hidupnya dengan sisa-sisa semangat yang
mulai mengelupas seiring berjalannya waktu. Dan dia semakin sadar, bahwa tidak
ada lagi yang perlu diperjuangkan olehnya, bahkan hidupnya saja merasa tidak
pantas untuk diperjuangkan. Ya, Connors menghancurkan hidupnya sendiri secara
perlahan-lahan dan kedua Orang tuanya hampir putus asa menghadai perubahan
sikap Connors yang sangat drastis. Menurut mereka itu tidak masuk akal
mengingat bagaimana Connors yang sangat dipercaya oleh Papanya namun sekarang
hancur dalam sekejap mata tanpa ada sebabnya. Itu karena mereka tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi pada anak-anak mereka, yang mereka tahu adalah anaknya
bahagia atas harta yang diberikan kedua orang tuanya.
Hingga
akhirnya Connors merasakan panggilan jiwa, yang berarti bahwa Jaclyn kembali
padanya. Namun dia tetap tidak tahu bahwa Jaclyn semakin mendekat kearahnya,
dia tidak pernah sadar akan hal itu karena hatinya yang terlalu dibutakan oleh
kabut kesedihan yang menyelubunginya setiap hari.
1
Bunyi dering
ponsel yang begitu nyaring sangat mengganggunya, mengganggu kentetramannya yang
berusaha menghindar dari keramaian jenis apapun. Semakin ia mengabaikan semakin
sering pula ponsel itu bordering, berusaha menarik perhatiannya. Dengan enggan
ia mencari keberadaan ponselnya diatas meja sebelah tempat tidurnya yg sangat
berantakan, mulai dari perban, berbagai macam jenis obat entah itu terlarang
atau tidak, jarum suntik, beberapa pecahan botol, bahkan tetesan darah yang membasahi beberapa lantai dan
sprei.
“Halo..” dengan enggan
Connors berbicara tanpa melihat penelfon
“Cepat pulang sekarang
juga, ada sesuatu yang mau papa bicarakan..” terdengar suara yang tak
terbantahkan dari seberang telfon
Connors mencoba
mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih dan menghilangkan rasa
sakit kepala yang sangat mengganggunya
“CONNORS!!!..” hampir
saja ia melemparkan ponselnya kedinding ketika teriakan papanya sangat
memekakkan telinga yang membuat kesadarannya tiba-tiba saja pulih “Pulang
sekarang juga, mamamu sudah menunggu dan jangan buat dia kecewa..”
Kesadarannya
yang sudah sepenuhnya pulih tiba-tiba dihantam oleh sepatah kata yang dulu ia
hormati dan ia sayangi yang hampir terlupakan olehnya. Wanita yang telah
berjasa selama ini, yang selalu ada disaat ia susah untuk menghiburnya dan saat
ia senang untuk ikut tersenyum bersamanya namun kini rasa sayang itu tidak
sebesar dulu lagi, bahkan dia hampir lupa bagaimana rasa sayangnya dulu
pada wanita itu, wanita yang telah
membesarkannya.
Connors tersenyum kecut
dan tanpa sadar mematikan ponselnya tanpa menjawab telfon papanya.
Hebat, sungguh
hebat seorang gadis bisa menghancurkan kehidupannya hanya dalam beberapa waktu
bahkan bisa membuatnya kehilangan perasaan, perasaan yang hanya bisa dirasakan
ketika menyangkut perempuan itu.
Ia berjalan
menuju kamar mandi, mengabaikan rasa sakit di telapak kakinya saat ia menginjak
beberapa pecahan botol. Pecahan botol itu menggambarkan bagaimana kerasnya ia
melewati malam-malam yang kelam selama ini seakan itulah yang menjadi teman
setianya selama ini.
***
Connors
mengemudikan mobilnya dengan tenang, namun pikirannya terbang jauh meninggalkan
raganya, Samar-samar bayangan perempuan itu muncul diotaknya secara berkala
sampai secara jelas muncul diotaknya. Dan seketika itu juga jantungnya bergetar
hebat dan terasa nyeri, seakan sesuatu tak kasat mata menyayat jantungnya
secara perlahan, membuatnya menepikan mobilnya. Tak cukup sampai disitu,
kepalanya-pun ikut berdenyut-denyut hebat seakan seseoranng sedang memukulnya
dengan palu. Connors sudah sering mengalami ini sejak dia kehilangan seseorang
yang telah mengambil hatinya dan mulai berurusan dengan obat-obat terlarang
sehingga rasa sakit ini semakin sering menyerangnya.
Connors membuka
dashboard mobilnya dan meraba-raba didalamnya, mengambill sesuatu yang selama
ini menjadi pelariannya. Menyuntikkan benda itu ke tangannya dan berangsur
angsur sakit itu hilang walaupun efek lainnya akan memperparah kondisinya.
Nafasnya masih
memburu walaupun sakit itu sudah hilang. Ia bergumam dalam hati, sampai kapan,
sampai kapan ia akan seperti ini, mungkinkah sampai ia menghembuskan nafas
terakhirnya. Sanggupkah ia menjalani masa hidupnya seperti ini?.
Tiba tiba ia
menangkap sosok seseorang yang sedang ia cari, sosok itu berjalan dengan
seorang lelaki paruh baya yang agak jauh ditempat Connors menepikan mobilnya.
Connors meneliti bahwa ia baik-baik saja walaupun cara bergeraknya sedikit
terbata-bata dan perlu penjagaan. Tapi benarkah itu dia? Bukankah dokter bilang
bahwa kemungkinan kecil untuknya bisa sembuh walaupun sembuh ia tidak akan
sembuh total, pasti akan ada bagian tubuhnya yang harus dikorbankan. Tapi tidak
seharusnya juga Connors mengharapkan sesuatu yang buruk bagi gadis itu, yang
penting ia harus memastikan bahwa itu memang benar-benar gadis yang telah lari
darinya.
Gadis itu masuk
kedalam sebuah mobil, dan Connors mencoba mengikuti mobil itu hanya untuk
memastikan apa yg dilihatnya.
Tiba tiba
ponselnya berdering, ia mencoba mengabaikannya dan berkonsentrasi untuk mengikuti mobil itu yang
melaju dengan cepat dan begitu lihai dalam mendahului beberapa mobil dijalan
yang sangat ramai. Namun ponsel itu terus berdering, maka ia meraba-raba
dikursi sebelahnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya mencoba
mematikan ponselnya tanpa berniat untuk menjawab telfon. Ketika ia hampir
berhasil mendapatkannya, ponsel itu malah jatuh dibawah kursi mobilnya yang
terpaksa membuatnya menunduk untuk mengambilnya dan mengalihkan perhatian
sementara dari jalan. Ia melihat ponselnya dan tertera nama papanya disana,
Connors langsung mematikan ponselnya dan melamparkannya begitu saja lalu
kembali memandang jalan “Shiit!!!” umpatnya ketika melihat seorang pejalan kaki
lewat didepannya, Connors langsung membanting setirnya dan menabrak trotoar.
***
“Bagaimana Pa? Dia jadi kesini kan?” Wanita setengah baya itu menatap
suaminya dengan cemas sementara sang suami tak berani menatap mata istrinya, ia
tak tega melihat harapan yang terpancar dimata istrinya.
“Dia tidak mengangkat telfonnya Ma..”
“Ya Tuhan!!!, semoga dia baik baik saja” kata wanita itu sambil memegangi
dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak dan kepalanya terasa pusing luar biasa
hingga kesadaran merenggutnya
“Mama!!!!..” teriak suami dan anaknya secara bersamaan
Sang suami langsung menggendong istrinya menuju kamar diikuti dua anaknya
dibelakang dan berteriak memanggil pembantunya dengan panik..
“Iya tuan??” tanya pembantunya dengan panik tak lama kemudian karena
mendengar teriakan tuannya
“Tolong hubungi dokter Hendra sekarang..” ucapnya tanpa melihat pembantu
karena dia sibuk dengan ketakutannya akan istrinya.
“Baik tuan..” pembantu itu langsung berlari meninggalkan mereka
“Pa...” Riley memegang pundak papanya yang sedang berlutut memegang tangan
istrinya dengan cemas
Papanya langsung berdiri menatap kedua putranya, masih
terlihat jelas kecemasan didalam matanya. Pandangan itu membuat hati Riley
merasa sedikit sakit, betapa papanya sangat mencintai mamanya sehingga ketika
mamanya pingsan membuatnya ketakutan
setengah mati “Pa..Biar aku saja yang menggantikanya..”
“Apa maksudmu nak? Semua itu sudah direncanakan untuk Connors..”
“Tapi pa..Dia bukan dirinya, dia sedang dalam keadaan kacau...”
Papanya menghela nafas berat, tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap
putra sulungnya yang berubah drastis. “Mungkin....”
Tiba tiba muncul sosok Connors diambang pintu dengan
keadaan kacau dan nafas yang memburu. Kepalanya berdarah dan menetes hingga
pipinya, bahkan dibajunya juga ada sedikit tetesan darah.
Amarah papanya tersulut begitu saja ketika melihat Connors, papanya
langsung menarik kerah kemejanya dan menyeretnya keluar dari kamar diikuti oleh
Riley, sementara Toby tetap disana menjaga mamanya karena ia merasa tak berhak
ikut campur urusan mereka.
“Dasar anak durhaka..!!.” papanya langsung berteriak dan matanya berkilat
marah, ia melirik kepala Connors yang berdarah dan langsung memukul Connors
dengan sekuat tenaga hingga ia terjungkal dan berdarah disudut bibirnya “Apa
yang kau lakukan? Berkelahi? Ngebut dijalan? Mabuk?..Papa tak habis fikir, apa
sebenarnya yang membuatmu berubah??” papanya mengusap rambutnya gemas, merasa
putus asa menghadapi sikap putra sulungnya “Kau tahu selama ini mama-mu selalu
mencemaskan-mu karena kau tidak pernah pulang, dia ingin sekali bertemu dengan
anaknya, dan hari ini kau mengecewakannya..”
“Papa dan Mama tak perlu mencemaskanku..” Ia berdiri sambil mengusap sudut
bibirnya yang berdarah “Aku tidak akan mempermalukan keluarga, aku hanya butuh
waktu untuk..”
“Butuh waktu untuk apa? Untuk lari dan sembunyi?” potongnya
“Bukan urusan Papa...” balasnya cepat kemudian melirik Riley sekilas
“Baik...Papa tidak akan mencampuri urusanmu. Papa dan mama hanya minta satu
hal..”
Connors mengerutkan kening ketika mendengarnya, kenapa papanya menyerah
begitu saja?. Connors mengira bahwa papanya akan terus mendesaknya untuk
mengetahui apa yang membuatnya berubah, bahkan Connors sudah mempersiapkan diri
jika nanti harus babak belur oleh papanya.
“Papa ingin kamu memulai masa depan dan menjadi bertanggung jawab dengan
istri dan calon anakmu nanti...”
“Ma..Maksud papa, papa dan mama ingin aku menikah??” Connors menatap papanya penuh tanda tanya
“Ya..” Papanya mengangguk lemah “Dan papa sudah punya calon untukmu, besok
mereka akan datang kemari untuk membahas kelanjutannya..”
Connors tak bisa berkata-kata, terlalu kaget dengan permintaan papanya yang
terasa aneh dan terlalu kekanak-kanakan. Apakah papanya terlibat hutang besar
sehingga menjualnya? Tapi selama ini papanya tak menunjukkan tanda-tanda
kebangkrutan. Lalu untuk apa?.
Seakan bisa membaca fikiran Connors
“Papa tidak berniat untuk menjualmu atau apa, tapi papa hanya ingin mempererat
persahabatan papa..”
“Tidak pa...” Connors menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan melirik Riley
maupun papanya secara bergantian “Connors sudah punya jalan sendiri..”
“Jalan?” Papanya bertanya dengan nada yang sedikit tinggi “Jalan hidup
seperti apa yang kau maksud? Seperti itukah masa depanmu? Mabuk-mabukan,
narkoba dan bermain wanita, itu masa depanmu? Itu yang membuatmu bahagia?”
Connors akan menjawab ketika datang seorang pembantu secara tiba-tiba,
mengalihkan perhatian mereka semua.
“Tuan, dokter Hendra sudah datang..” Ucapnya pelan dengan nada sedikit
ketakutan karena merasa mengganggu pembicaraan tuan besarnya.
Tanpa menoleh lagi papanya langsung meninggalkan Connors dan Riley ditempat
itu, diikuti pelayannya
Riley menatap Connors tajam “Kenapa kau menolak perjodohan itu? Kau mau
mempermalukan papa dan mama?” tanyanya tajam
Connors balas menatap Riley tajam “Kau tahu kalau aku belum bisa menerima
perempuan lain dan kau tahu terakhir kalinya aku mencintai seseorang membuatnya
hampir kehilangan nyawa.”
Riley menghela nafas berat, menyerah dengan sikap kakaknya yang mencoba
keras melupakan seorang perempuan dan rasa bersalah yang selalu menghantuinya
“Lalu sampai kapan kau akan seperti ini? Kau tidak bisa terus-terusan seperti
ini, itu akan menghancurkanmu secara perlahan..”
“Aku tak tahu,, aku tak tahu apa yang harus kulakukan..” pandangannya
berubah menjadi kalut dan dipenuhi rasa bersalah “Kau tahu aku takut waktu dia
dirawat, dan rasa bersalah mengahantamku ketika kemungkinan besar dia akan
lumpuh ketika sembuh bahkan aku hampir gila ketika dia dibawa pergi oleh
kakaknya dan aku putus asa karena tak menemukannya. Lalu sekarang semudah itu menurutmu untuk menerima
gadis lain disaat kau sedang kacau?”.
Riley menepuk pundak
kakaknya pelan, mencoba menenangkan dan menghiburnya walaupun ia tahu tak bisa
mengubah kondisi kakaknya “lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”.
Connors menatapnya
dengan mata sedikit berbinar, namun tetap tak bisa menutupi kekalutan dimatanya
“aku ingin kau menggantikanku dalam perjodohan itu..”.
Riley membelalakkan
matanya lebar, kaget dengan ucapan kakaknya. Walaupun ia sudah mengantisipasi
hal ini tapi tetap saja terasa mengejutkan ketika kakaknya yang memintannya
daripada ia menawarkan diri. “La…Lalu apa rencanamu???”.
“Aku akan menunggunya,
aku akan menunggunya datang padaku..”.
Sekali lagi, Riley
dikejutkan oleh ucapan kakaknya yang menurutnya terlalu pasrah dengan keadaan
“Kau gila??!” teriaknya geram “Bagaimana kalau dia tidak datang? Kau akan tetap
menunggunya dengan berkelakuan seperti itu?”
Riley menatap Connors yang tampak bingung dengan pertanyaannya “Mati-lah
kau sebelum sempat bertemu dengannya..!”.
Connors tersenyum,
seakan Riley baru saja mengusulkan sebuah ide yang bisa menyelesaikan
masalahnya “Yaah, setidaknya aku telah menunggunya dengan setia!!”
“Kau Gilaaa!!!” Riley
berjalan menjauh dari Connors “Datang saja besok diacara makan malam, kau akan
melihatku bertunangan dengan gadis itu..”
***
Connors mengemudikan
mobilnya dengan kecepatan penuh, ia sudah sangat terlambat untuk datang keacara
itu. Ia merutuki dirinya yang selalu datang terlambat, padahal ia sudah
mempersiapkan semuanya dari awal tapi tetap saja tak bisa tepat waktu.
Tiba tiba firasat buruk
menghampirinya, entah datang darimana tapi firasat itu menusuknya dalam dalam
hingga membuatnya mengernyit ketika merasakan sakit.
Hingga akhirnya dia
sampai dirumah orang tuanya. Dia melihat sebuah mobil yang tak asing baginya
terparkir dirumah orang tuanya namun itu tidak penting, yang terpenting ia
harus segera masuk dan menampakkan diri disana sebagai bagian dari keluarga
Mcdonough.
Connors memasuki
rumahnya dan langsung disambut oleh Toby dengan ekspresi yang tak bisa
didefenisikan, campuran antara kecewa dan heran “Kau akan menyesal telah
membatalkan pertunangan ini..” begitulah kata sambutan yg diterimanya dari Toby
Connors menatap Toby
dengan bingung, kemudian dia ingat tujuan utamanya datang kesini “Dimana Mama
dan Papa?, emm…dan Riley tentunya”
“Mereka semua ada
didalam.”
Kemudian Connors masuk
kedalam ruang tengah yang megah itu, disana semuanya telah duduk dan sedang
bercanda ria. Dia melihat Riley yang duduk berhadapan dengan seorang gadis,
Riley tampak memandang gadis itu dengan tajam namun gadis itu hanya menunduk.
Tapi ada sesuatu dari gadis itu yang menarik perhatiannya dan menyadarkannya
dari sebuah mimpi dan kenyataan yang menamparnya. Gadis itu yang membuatnya
putus asa karena kehilangannya, permata berharga selama ini yang berusaha
dicarinya dan bagian dari hatinya yang hilang. Gadis itu pergi membawa separuh
hatinya dan sekarang dia datang secara mengejutkan, dia datang untuk memberikan
hatinya kembali yang dibawanya tapi Connors menolaknya mentah-mentah dan
menyerahkan pada adiknya. Pantaskah dia mengambil kembali yang seharusnya
menjadi miliknya dari adiknya karena pemberiannya?
“Connors?” panggilan
itu menyadarkannya dari lamunan.
Secara bersamaan, semua
orang yang ada disitu langsung menoleh dalam hitungan detik dan Connors
langsung bertatapan dengan gadis itu cukup dalam sehingga mereka berdua tidak menyadari
tatapan dari orang yang ada disekitarnya.
Connors melihat
ke-kedalaman mata hitam itu lagi, sudah lama ia merindukan mata itu bahkan ia
mendambakannya, mendambakan mata hitam itu menatapnya dengan gugup tiap kali
saling bertatapan, merindukan tubuh ramping itu yang dipeluknya dengan hangat
saat terakhir kali mereka bertemu.
“Kau mau bergabung
dengan kita nak?” suara itu kembali menyadarkannya, suara dalam yang berwibawa
milik papanya mengalihkan tatapannya.
Connors mengangguk,
kemudian mengambil duduk disebelah Riley. Ia memang sengaja melakukannya karena
ia tak ingin jauh dari gadis itu.
“Hei, aku ingin
bicara..” Riley berbisik ditelinganya kemudian berdiri dan berpamitan pada yang
lain, disusul oleh Connors yang sedikit merasa kesal karena baru ia akan
menikmati suasana ketika adiknya ingin mengajaknya bicara.
Riley menghela nafas
berat ketika akhirnya mereka berdua bisa menjauh dari tekanan. Ia menatap
Connors yang juga menatapnya dengan tangan bersedekap, kemudian memejamkan
matanya sejenak dan menghimpun seluruh kekuatannya untuk mengatakan kalimat
yang begitu mengganjal dihatinya “Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini?”
Connors menatapnya
dengan tatapan yang sedikit menantang “Tentu saja mengambil kembali hak
milikku.!” Katanya dengan intonasi yang menunjukkan kalau dia tidak mau
dibantah.
“Bagaimana dengan papa
dan mama? Mereka sudah terlanjur mengatakan bahwa aku yang akan menikah dengan
Jaclyn bukan KAU!!” Riley menekankan kata Kau dengan nada yang sedikit tinggi
“Aku akan berusaha untuk
mendapatkannya, dengan cara apapun itu!!” dominan kata yang menunjukkan bahwa
dia akan merebut Jaclyn membuat Riley marah karena Connors yang menurutnya
bersikap semaunya sendiri.
Riley tersenyum miring
kearah Connos, sebuah senyum sinis “Bagaimana kalau aku tidak akan
melepaskannya?”
Connors mencengkeram
jari-jarinya sendiri, hingga terlihat oto-otot dibagian tangannya, rahangnya
mengeras dan giginya bergetar menahan amarah yang tersulut hanya karena
pertanyaan Riley yang menantangnya “Maka kita akan bersaing..!!!”
2
Minuman itu
ditenggaknya hinga tak tersisa, mengalir ditenggorokannya bagaikan madu yang
terasa sangat manis dan menenangkan. Connors sudah menghabiskan beberapa botol
minuman namun dia tetap belum puas, hatinya belum tenang. Tapi itu sudah
menjadi kesehariannya dengan perasaan yang tak pernah tenang sejak
menghilangnya Jaclyn, namun kali ini berbeda, dia seperti merasa kehilangan
gairah untuk hidup. Connors melihat kearah lantai dansa yang sedikit gelap,
penuh sesak dan ramai. Banyak wanita cantik dan beberapa pasangan namun dia
tidak tertarik pada wanita cantik dan seksi yang sedang memandangnya penuh
minat, ia benci wanita murahan. Connors memang suka datang ketempat disko ini
tapi bukan untuk bermain seks dengan wanita-wanita itu, melainkan untuk
menghabiskan waktu dengan minuman beralkohol, Connors bukanlah penggila seks
jadi dia hanya bercinta dengan wanita saat ia benar-benar kacau dan sekarang
dia memang benar-benar kacau luar maupun dalam dengan keadaan rambut acak-acakan,
kemeja yang kusut dan berantakan, hati dan pikiran yang sedang kalut dan
kepalanya yang sangat pusing seakan ingin pecah. Ia akan meminum minumannya
lagi ketika seseorang tiba-tiba memegang pundaknya dan membuatnya mengalihkan
perhatian dari minuman beralkohol itu. Connors melihat wanita berambut pirang
berpakaian yang menggoda, bibir yang sangat ranum dan mata hitam yang penuh
dengan pesona datang kearahnya.
“Jaclyn??” itulah kata
yang terucap pertama kali saat melihat wanita itu
Connors langsung
menyerangnya dengan bibirnya, dipenuhi gairah dia melumat bibir wanita itu
bahkan tidak memberikan kesempatan kepada siwanita untuk membalas ataupun
menolak, dan wanita itu tidak ada tanda tanda akan penolakan ciuman dari
Connors, justru menunjukkan bahwa wanita itu sangat menikmati ciumannya. Wanita
itu seolah tak mau kalah, ia mengalungkan tangannya pada leher Connors sehingga
memperdalam ciumannya bahkan beberapa kali wanita itu menggigit bibir Connors
membuat Connors mengerang dan semakin mendekatkan wanita itu kearahnya. Mereka
berciuman dengan sangat panas bahkan mereka lupa diri dan hampir saja Connors
menanggalkan rok pendek wanita itu didepan umum
“Tidak disini sayang..” wanita itu mengelus jemari Connors yang mencoba melepas roknya dan menariknya menjauh dari keramaian..
“Tidak disini sayang..” wanita itu mengelus jemari Connors yang mencoba melepas roknya dan menariknya menjauh dari keramaian..
Connors mengikuti
langkah wanita itu menuju sebuah kamar yang sudah disiapkan dengan lampu yang
sedikit temaram namun suasana yang begitu menggoda. Wanita itu mengunci
pintunya dan menarik Connors menuju ranjang dengan dia yang tidur dibawahnya.
Dia kembali mencium Connors dengan sangat menggoda, tidak hanya bibir, tangan
dan kakinya pun ikut bergerilya. Tanganya menelusup kedalam kemeja Connors dan
membuka kancing kemejanya satu persatu sembari mengelus kulit lembut Connors
dan kakinya bergelung dipinggang Connors, sesekali dia mengangkat pinggulnya
dan mencoba menggoda yang ada dibawah sana. Meskipun tidak mendapat respon dari
Connors dia tidak mau menyerah. Dia berhenti mencium Connors, beralih menatap
matanya, menatap kedalaman mata azure yang sangat indah. Sejenak dia terkagum
dengan ciptaan Tuhan yang begitu indah, Connors begitu sempurna, sedangkan
wanita yang akan mendampingi hidupnya kelak pastilah wanita yang sempurna pula.
Siapa yang tidak mengenal Mcdonough bersaudara, mereka diberkahi ketampanan
yang luar biasa dan sungguh beruntung jika dia menjadi pendamping hidup salah
satu dari mereka. Tidak, seharusnya dia tidak berangan-angan sejauh itu,
Connors memilihnya untuk menemani malamnya saja sudah beruntung, Connors tidak
mungkin melakukan lebih pada seorang pelacur sepertinya.
“Tatap aku sayang..”
wanita itu mengarahkan pandangan Connors yang mulai tidak focus kearahnya,
menyuruh untuk menatapnya.
Pandangan Connors tidak
bisa focus, dia sulit menemukan mata wanita itu. Sampai jemari wanita itu
mengelusnya dan mengarahkannya pada mata hitam milik wanita itu. Connors
menatapnya dan kembali mendapatkan mata hitam yang indah memandangnya. Namun
kali ini berbeda, mata hitam itu menatapnya dengan begitu menantang dan
berkabut penuh dengan gairah, bukan mata hitam yang menatapnya dengan lembut
dan gugup namun penuh pesona. Jemari itu kembali membelainya dengan penuh
kelembutan dan sangat ahli, membuat Connors mengerang dan tidak bisa menahan
diri.
***
***
Connors merasakan ada tangan seseorang yang memeluknya,
dan sesuatu bersentuhan dengan kulit tubuhnya. Dia melirik kesampingnya, dan
betapa terkejutnya ia ketika mendapati seseorang sedang tidur telanjang
disampingnya dan memeluknya. Connors segera bangun dan melompat dari ranjang
dan tidak menyadari bahwa dia juga telanjang. Hal itu membuat selimut yang
melingkupi gadis itu merosot sampai lututnya
dan memperlihatkan tubuh wanita itu yang terekspos begitu saja.
Merasakan ada sesuatu yang menganggu tidurnya,wanita itu bangun dan tersenyum
melihat Connors yang terlihat begitu tergesa-gesa memakai kembali pakaiannya.
“Kenapa kau begitu
terburu-buru, kau tidak ingat betapa begairahnya kau terhadapku tadi
malam?” wanita itu sengaja mengatakannya
dengan begitu sensual, membuat Connors berbalik dan menatapnya.
Cantik, dia cantik
seperti wanita Arab latin dengan mata hitam yang indah, itulah pikiran pertama
yang terlintas dibenaknya. Connors sempat terjebak dalam mata hitam yang indah
itu, pertama kali melihatnya dia mengira bahwa wanita itu adalah Jaclyn, itu
terjadi karena dia dalam keadaan mabuk. Connors kembali teringat ketika
kesadarannya mulai kembali dan mengetahui bahwa wanita itu bukan Jaclyn, namun
wanita itu tidak mau mundur, dia tidak mau melepas Connors begitu saja, dia
menggoda Connors dengan begitu ahli dan memanfaatkan mata hitam indahnya untuk
menjebak Connors. Dia cantik, baru pertama kali ini Connors memuji seorang
pelacur dan baru kali ini dia menemukan seorang pelacur berwajah Arab latin,
itu membuatnya berbeda, berbeda dari yang lain.
Wanita itu kembali
tersenyum ketika mendapati Connors yang
memandangnya begitu lama, dia tahu bahwa Connors sedang menilainya “Mau
bercinta lagi denganku?” tanyanya dengan nada sensual
Connors bergidik “Dalam
mimpimu..”
Wanita itu tertawa,
kemudian menatap Connors dengan senyum khasnya “Suatu kehormatan seorang
Connors Mcdonough memilihku untuk menemani malamnya dan aku akan merasa
tersanjung jika kau memilihku sebagai pendamping hidupmu..”
Connors sempat kaget
saat wanita itu mengenalinya namun Connors sangat pandai menyimpan mimic wajahnya jadi siapapun yang melihat tidak akan menyadarinya “Kau gila!!” ucapnya setelah melihat
kerutan dikening wanita itu.
“Kita akan segera
bertemu kembali sayang..” Ucapnya dan diakhiri dengan tawa yang keras setelah
Connors pergi dan menutup pintu kamar dengan keras.
***
“Dasar wanita gila..!” berkali-kali dia mengumpat dalam mobil setelah kejadiannya dengan wanita itu, entah mengapa Connors terus membayangkan wanita itu, seakan wajah itu tak asing baginya. Tapi siapa? Dan kenapa wajahnya begitu membekas diingatan Connors?
“Dasar wanita gila..!” berkali-kali dia mengumpat dalam mobil setelah kejadiannya dengan wanita itu, entah mengapa Connors terus membayangkan wanita itu, seakan wajah itu tak asing baginya. Tapi siapa? Dan kenapa wajahnya begitu membekas diingatan Connors?
Kembali, dering ponsel
mengalihkan perhatiannya. Dia melihat nama ‘Ruselly’ diponselnya
“Bagaimana?” kalimat
pertama Connors yang diucapkannya
“Ehm..Sudah kudapatkan
infonya..” terdapat jeda dalam telfon itu, Connors menunggu dengan sangat cemas
“Dia mempunyai saudara bernama Megan Davies dan Ayahnya bernama William
Davies...”
“Lewatkan informasi
itu”. Potong Connors geram
“Sementara hanya itu
yang kami dapat..”
Connors memukul kemudi
mobilnya tanpa sadar “Ruselly, aku membayarmu untuk…”
“Ah,ya dan satu lagi,
dia mempunyai ibu bernama Elsa Davies. Dikatakan dia meninggal dalam suatu
peristiwa tak lama setelah melahirkan anak kedua..”
Connors sedikit
tercengang mendengarnya, dia tak pernah menduga sebelumnya “teruskan..”
“Tapi ada hal lain yang
harus bos ketahui. Kami mendapat data
bahwa ada 1 orang yang belum kami ketahui, tapi dia tercantum dalam
daftar keluarga William Davies, dia bernama Iliana Faulst.”
“Kabari aku jika ada hal
terbaru..” Connors akan menutup telfonnya ketika Ruselly kembali bersuara
“Kami membutuhkan
kunjungan disini, aku tidak bisa menangani semuanya sendirian. Aku masih
membutuhkan bimbingan anda, dan seorang remaja beranjak dewasa sepertiku tidak
bisa menangani tanggung jawab besar atas perusahaan itu.” Ucapnya yang menurut
Connors terdengar seperti orang putus asa karena beban hidup yang berat.
Connors memang salah,
membebankan tanggung jawab besar pada Ruselly yang seharusnya dia gunakan
waktunya untuk bersenang-senang. Tapi ketika Ruselly datang pertama kali, ia
terpesona dengan kemampuannya, ia tak pernah mengira anak sekitar 18tahunan
mempunyai kemampuan sehebat itu. Dengan Ruselly, ia merasa tenang memberikan
tanggung jawab perusahaannya. “jika semuanya sedikit membaik, aku akan datang
berkunjung dan aku berjanji suatu saat kau akan bebas menikmati hidupmu..”
Terdengar helaan nafas
diseberang sana “kau mengobral janjimu padaku ribuan kali bos. Aku membayangkan
bagaimana kekasihmu yang selalu kau berikan obralan janji tapi tak pernah kau
tepati..”
Connors tersenyum tanpa
sadar, kemudian tertawa sedikit keras “aku hanya mengobral janjiku padamu nona
Hartawan.” Kemudian Connors menutup telfonnya dan tersenyum kembali
membayangkan wajah Ruselly disana.
Kekasih? Connors
tersenyum getir menyebut kata itu. Ia tak pernah benar-benar merasakan
bagaimana cinta, semua cinta yang pernah ia berikan pada kekasihnya dahulu
adalah bukan benar-benar cinta yang sesungguhnya. Semua itu hanya ego semata
yang tidak benar-benar harus untuk diperjuangkan. Namun kali ini, sejak ia
bertemu Jaclyn, ia benar-benar telah mengerti artian cinta yang sesungguhnya,
yang tidak pernah ia dapatkan pada kekasih sebelumnya. Jaclyn pantas untuk
diperjuangkan dan apapun yang terjadi ia akan mempertahankan Jaclyn untuk tetap
menjadi miliknya.
Jaclyn? Apa yang
terjadi padanya setelah kecelakaan itu dan dimana sekarang dia tinggal?.
Riley!, dia pasti tau alamat Jaclyn.
“Riley!!!” teriaknya,
ketika sudah sampai dirumahnya dan melihat keadaan rumah yang cukup sepi
“Hei!!, kau sangat
menggangguku.” Muncul Toby dibalik sofa dan melepas satu headset ditelinganya
“Dimana Riley?”
“Dia sedang menemui
tunangannya..” ucapnya tanpa melihat perubahan raut muka Connors
“Siapa?” Tanya Connors
untuk memastikan bahwa bukan orang yang dia cari
“Dia hanya bertunangan
dengan satu orang kak dan sudah pasti itu Jaclyn.” Jawab Toby tenang namun kali
ini ia melihat perubahat raut muka Connors yang berusaha ia tutupi agar
terlihat tenang didepan adiknya.
Toby sedikit tegang
melihat raut muka Connors, kira-kira apa yang ada dipikirannya sehingga bisa
membuat wajah tampan itu berubah menjadi menakutkan?, dan apa yang akan
dilakukannya pada Riley setelah mereka bertemu?, apalagi ada Jaclyn
ditengh-tengah mereka. “Emm...Kakak akan menemuinya?” tanyanya dengan sangat
hati-hati, takut mengganggu ketenangan hatinya yang sudah terusik
“Kau tau alamatnya ??”
Toby mengangkat satu
alisnya “Kakak tidak tau dimana dia tinggal?” tanyanya sedikit heran, mengapa
kakaknya yang sangat menggilai Jaclyn tidak tau dimana alamat rumah Jaclyn
“Tidak..” jawabnya
datar
“Kakak tidak tahu apa
apa tentangnya?”
Kali ini berganti
Connors yang mengangkat satu alisnya”Apa maksudmu?”
“Maksudku kakak tidak
tahu apa yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu?”
Connors menatap Toby
dengan serius, menandakan bahwa ia memang tidak tahu apa-apa dan Toby
benar-benar tidak menduga hal ini, kemudian ia mulai bercerita ketika Jaclyn
dibawa pergi oleh kakaknya untuk pulang kenegaranya dalam keadaan kritis, kakaknya
terpaksa membawa Jaclyn pergi untuk menjauh dari mereka bertiga dan ketika
Jaclyn sudah sembuh, dia kehilangan sebagian ingatannya yang artinya Jaclyn
tidak akan mengenali mereka bertiga dan bisa saja melupakan perasaannya pada
kakaknya Connors. Dan perusahaan Ayah Jaclyn yang mulai mengalami kebangkrutan,
hingga ia meminta bantuan kepada Papa mereka untuk membantu agar Jaclyn dan
keluarganya tidak sampai jatuh miskin dan terlantar. Dan sebagai balas budi Ayah Jaclyn menawarkan sebuah pernikahan untuk Jaclyn
dan salah satu anak Papanya untuk mempererat hubungan persahabatan mereka. Papanya
memilih Connors karena waktu itu Connors adalah anak kepercayaan Papanya yang
digadang-gadang akan mewarisi separuh dari perusahaan Papanya yang sedang ia jalankan
namun bukan berarti Papanya tak mempercayai 2 putranya, hanya saja waktu itu
Toby masih terlalu kecil untuk dibebani tanggung jawab itu dan kakaknya Riley
menolak karena dia bilang tidak berbakat untuk menjadi seorang pengusaha sampai
akhirnya Connors menghancurkan kepercayaannya dan Papanya mencabut semua asset yang
diberikan kepadanya dan Connors juga secara sadar menyerahkan Jaclyn pada
Riley.
Connors ternganga
mendengarnya, ia tidak tahu dan tidak menduga bahwa Jaclyn mengalami amnesia,
pantas saja waktu itu Jaclyn seperti tidak mengenali mereka, kalau saja Jaclyn
tahu mungkin ia enggan untuk bertemu keluarganya ketika mendengar namanya atau
mungkin menjerit ketakutan ketika bertemu dengannya. “Lalu dimana Mama dan Papa
sekarang?”
“Papa sedang ada urusan
bisnis
juga menghadiri pernikahan dokter Hendra, dia
berangkat keIndonesia kemarin malam.”
“Bersama Mama?”
“Yaa, Mama bilang
merindukan tanah kelahirannya. Jadi mereka akan tinggal beberapa minggu.”
***
Dia mengendarai
mobilnya menuju alamat yang telah diberikan Toby. Disepanjang jalan, pikirannya
terbang kemana-mana. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, apakah
kakak Jaclyn tahu tentang perjodohan ini? Bagaimana reaksinya jika dia tahu,
akankah ia berbuat nekat seperti saat Jaclyn dirawat dengan membatalkan
perjodohan ini dan meyakinkan Jaclyn bahwa yang akan dinikahinya adalah orang
jahat yang mencelakainya? Dan bagaimana jika ingatan Jaclyn kembali, akankah
dia berteriak histeris dan ketakutan ketika tahu siapa yang akan dinikahinya?
Dan yang terpenting bisakah ia bersaing dengan adiknya sendiri untuk
mendapatkan Jaclyn?
Tiba tiba ia teringat
Ruselly. Apakah dia bertemu dengan Papanya disana? Karena perusahaannya adalah
perusahaan terbesar dinegara itu dan memberikan kontribusi terbesar juga bagi
Negara itu, jadi jika ada proyek besar pasti pihaknya akan diundang.
Sosok gadis bertubuh
mungil dan berambut pirang mengalihkan pikirannya, dilihatnya sosok itu sedang
menunggu sesuatu dengan menenteng beberapa tas belanja. Ia langsung
menghentikan mobilnya tepat didepannya dan membuka kaca jendela mobilnya.
“Jaclyn!!.” Sapa
Connors yang ditanggapi dengan diam oleh Jaclyn
Bodohnya Connors, dia
lupa bahwa Jaclyn mengalami amnesia yang tentu saja tidak mengenalinya dan
waktu makan malam itu ia tidak sempat memperkenalkan diri pada keluarga Davies.
Connors turun dari
mobilnya dan mendekati Jaclyn, dilihatnya Jaclyn tampak sedikit gelisah ketika
Connors mendekat. Sedikit rasa kecewa ketika reaksi itu yang didapatkannya dari
Jaclyn, benarkah yang dibilang Toby bahwa mungkin Jaclyn sudah melupakan
perasaannya pada Connors dan yang teringat olehnya hanya kejelekan Connors? “Ka..kau
Jaclyn?” tanyanya hanya untuk membuat Jaclyn merasa tenang
Ya, Jaclyn memang tidak
segelisah tadi walaupun sedikit kerutan terlihat di dahinya “ya benar.” Ucapnya
sambil mendongak menatap mata azure, mata yang indah dan menyejukkan.
Connors tersenyum dan menjabat tangan Jaclyn begitu saja “Aku Connors
McDonough..”
Jaclyn membelalakkan matanya lebar “Kau kakak Riley.?” Tanyanya masih
dengan ekspresi sama
“Ya..” Connors tersenyum lebar mengetahui bahwa Jaclyn mengenalinya walau
hanya sebagai kakak Riley. Jaclyn mengenalnya saja sudah membuat hatinya
menghangat, mencairkan suasana hatinya yang beku karena kepergiannya. Dia yang
membekukan dia pula yang mencairkannya dan Connors berharap hatinya akan selalu
seperti sekarang, tidak beku dan tak tersentuh yang artinya dia harus memiliki
Jaclyn untuk selalu menghangatkan hatinya. “Mau pulang?” Connors tersadar dari
pikirannya “Bagaimana kalau aku mengantarmu?, kau juga nanti akan jadi adik
iparku, jadi aku harus memastikanmu baik-baik saja.”
Blush, Pipi Jaclyn memerah begitu saja. Tampak semakin manis jika dia
blushing “Boleh” ucapnya sambil tersenyum malu-malu
Connors segera membukakan pintu penumpang dan
mempersilahkan Jaclyn masuk, kemudian dia berputar untuk duduk dibalik kemudi.
Mereka lalui waktu perjalanan mereka dalam diam, tak tahu apa yang harus
dibicarakan. Connors selalu mencuri pandang kearah Jaclyn namun Jaclyn tak
melihat kearahnya, dia melihat keluar jendela sehingga seakan sikap Jaclyn
menyingkur dari Connors tapi lebih baik seperti ini, memperkenalkan diri
sebagai kakak Riley dan dengan perlahan-lahan ia akan mengambil kembali Jaclyn.
“Emm. Bagaimana kabar kakakmu? Aku tidak melihatnya kemarin saat
pertunangan kalian?” Connors tidak bisa menahan untuk tahu dimana kakak Jaclyn
berada karena jika dia ada didekat Jaclyn, sudah pasti dia akan menjadi
penghalang bagi Connors
Jaclyn tampak sedikit terkejut ketika menoleh kearah Connors “Dia pulang
kerumah suaminya..”
“Dia sudah menikah?”
“Hm.” Jawab Jaclyn sedikit lesu
“Lalu bagaimana dengan kariernya?”
“Dia akan melanjutkan karier musisinya disana bersama suaminya..” kali ini
Jaclyn memandang Connors dan Connors mendapati tatapan yang sedikit sendu dari
mata hitamnya
Sayang sekali, padahal
mereka berdua sangat cocok ketika konser bersama, mereka bisa melengkapi
kekurangan satu sama lain tapi seharusnya itu menjadi kabar bagus bagi Connors
karena dengan tidak adanya kakak Jaclyn maka dia akan sedikit dengan mudah
mendekatinya.
Tak lama kemudian mereka
sampai dirumah Jaclyn. Connors keluar terlebih dahulu untuk membukakan pintu
dan membawakan tas belanjaan Jaclyn namun langkah mereka terhenti ketika sampai
dipintu , terutama Connors yang berdiri mematung sambil menatap dengan mata
membulat
“Riley?.” Gumam Connors pelan
Riley menatap Connors dengan tak kalah terkejutnya, keduanya sama-sama
berdiri mematung saling menatap dengan mata membulat hingga Ayah Jaclyn memecah
ketegangan diantara mereka “kau sudah pulang nak?”
“Ya Ayah, kakak Riley yang mengantarku..” Ucap Jaclyn memperkenalkan
Connors dan membuat mereka berdua tersenyum sedikit canggung kearah Ayah Jaclyn
Mendengar statusnya disebut, Connors tersenyum lebar dan menjabat
tangan Ayah Jaclyn “Connors Om.” Katanya
dengan sumringah dan tak lepas senyum lebar menghiasi bibir tipisnya kemudian
melirik Riley sekilas yang berada disampingnya.
“Oh ya, saya pernah mendengar-mu dari papamu.” Ucap Ayah Jaclyn sambil
balas tersenyum kearah Connors
“Benarkah?” tanya Connors antusias, tak menyangka bahwa Papanya akan
menceritakannya pada rekan bisnisnya
“Ya, kau pewaris setengah dari perusahaan Papa-mu kan?, nama-mu sering
muncul di dunia bisnis..”
Riley tersenyum kecut “Dan perusahaan Papa sudah di alih namakan atas nama
saya..” katanya menyela ucapan Ayah Jaclyn
“Oh.. Tentu” Balas Connors dengan sengit “Kita lihat berapa lama perusahaan
Papa akan bertahan..”
Riley menatap Connors dengan sengit, tak peduli dengan Ayah Jaclyn yang
sedang memperhatikan mereka “Keputusan Papa untuk mengambil alih perusahaannya
dari tangan seorang pemabuk sudah sangat tepat. Aku tidak bisa membayangkan
seorang pemabuk memegang kendali atas perusahaan besar..”
“Dan aku melihat adanya seorang penghianat dalam keluarga Papa...” Connors
balas menatap Riley dengan sengit
“Siapa yang kau maksud?” tanya Riley yang dengan terang-terangan
menunjukkan emosinya didepan Ayah Jaclyn
“Kenapa kau marah?” Ucap Connors santai namun tetap ada nada sinis didalam
kalimatnya “Aku tidak menyinggungmu Adikku tersayang” Connors menekankan kata
‘adikku tersayang’ sambil mendekat kearah Riley dan berbisik tepat didepannya
“Ehm. Kalian mau makan?” Tanya Ayah
Jaclyn berniat memisahkan pertikaian yang mungkin akan terus berlanjut diantara
mereka berdua “Mungkin Jaclyn bisa memasakkan sesuatu untuk makan bersama”
“Tidak perlu Om, saya tidak mau dekat-dekat dengan seorang pemabuk..”
“Dan saya juga tidak ingin dekat-dekat dengan seorang penghianat..”
Keduanya berpamitan pada Ayah Jaclyn dengan kekesalan yang dipendam
masing-masing, sementara Ayah Jaclyn hanya bisa menggeleng-nggeleng melihat
kelakuan mereka berdua, tak menyangka bahwa kakak-beradik yang satu itu tidak
bisa akur ketika bertemu, sama seperti Jaclyn dan Megan dahulu yang tidak
pernah akur waktu kecil. Namun ketika mereka dewasa, terutama saat Ibu mereka
meninggalkan mereka untuk selama-lamanya dan menikahnya Megan membuat mereka
berdua belajar banyak hal. Tapi tidak ada yang bisa diperbuat oleh mereka
berdua sekarang, terpisah oleh jarak sebelum sempat berdamai dengan ego
masing-masing, tidak pernah akur ketika bertemu namun memendam rasa sayang yang
besar jauh dalam lubuk hati mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar