Jumat, 01 Januari 2016

Cerita Bersambung


My Soul #1 : Little sin

Prolog
     He :
        Aku tidak pernah berniat sedikit-pun melakukan itu padamu, semua itu berawal dari kesalahpahaman dan aku tidak pernah menyangka dosa yang kuperbuat sangat tak termaafkan dimasa lalu. Aku berusaha untuk memperbaikinya, memulainya dari awal bersamamu tapi jika itu bukan keinginanmu, izinkan aku pergi dengan separuh jiwa yang telah kau bawa dan catatan noda hitam yang takkan pernah bisa terhapuskan seperti dosa-dosaku padamu.
          She :
          Aku mempercayaimu dengan segenap jiwa dan ragaku, kubiarkan hatiku berlabuh padamu namun kenapa kau mematahkan kepercayaanku dengan segala kebohongan dan kesakitan yang kau hadiahkan kepadaku atas awal permulaan baru. Biarkan aku melupakanmu dengan segala kepedihan  yang telah kau sematkan didalam lubuk hatiku yang paling dalam.






Prolog
Dilanda rasa kepanikan dalam hatinya, Megan tak bisa tenang. Didalam ruangan yang bernuansa putih itu adiknya sedang berjuang melawan kematian. Serentetan bermacam-macam do’a ia panjatkan pada yang maha kuasa, namun itu tidak cukup untuk membuat hatinya tenang. Megan tak akan bisa bernafas lega sebelum memastikan tak ada cacat sekecil apapun pada adiknya.
            Ia melirik Connors dan 2 saudaranya yang sedang duduk berpangku tangan dikursi tunggu. Melihat Connors, seakan melihat hama menjijikkan yang membuat amarahnya tersulut begitu saja. Connors-lah penyebab semua ini, Connors-lah penyebab kehancuran adiknya. Ya, dia memang hama yang menularkan penyakit dan harus dijauhkan dari jangkauan dan lebih baik lagi jika dimusnahkan.
Megan berjalan kearah Connors dan dua saudaranya dengan perasaan yang berapi-api “Kauu!!!..” ia menunjuk tepat didepan wajah Connors
Connors mendongak dan sedikit mundur ketika jari telunjuk Megan hampir mengenai matanya
“Kau masih berani menampakkan wajah-mu di depan-ku setelah apa yang kau lakukan pada adikku??”
Connors tampak kehabisan kata-kata, ia tak tahu harus mulai darimana untuk menjelaskan pada Megan bahwa semua berawal dari kesalahpahaman.
“Kau dan Jane, sama-sama busuknya. Kalian tega menghianati adik-ku? Apa kesalahan adikku sehingga kalian membuatnya hancur seperti itu?” Megan terus mendesak Connors dan menyudutkannya “Kau tahu, karena-mu dia mengurung dirinya sendiri, terombang-ambing oleh perasaannya dan tertekan oleh keadaan. Setelah dia hancur perlahan, kau datang memberikan sentuhan akhir untuk mencelakakan adikku.” Megan tersenyum getir “Selamat. selamat kalian hampir berhasil. Tapi adikku..” Megan menunjuk ruangan putih tempat adiknya ditangani “Dia tak akan menyerah, dia akan berjuang dan menunjukkan pada-mu bahwa tak mudah untuk membunuhnya..” Ucapnya dengan berapi-api dan hampir setengah berteriak
Connors hampir putus asa menghadapi semua tuduhan Megan, namun ia tetap harus menjelaskan karena memang didalam hatinya tak pernah terlukiskan untuk mencelakai seseorang apalagi sampai membunuhnya “Aku tak pernah berniat untuk mencelakainya. Ini semua berawal dari kesalahpahaman.” Ucapnya dengan sedikit lesu.
“Bagian mana yang bisa disebut salah paham?. Kau bahkan sudah tau kalau adik-ku menaruh hati padamu, tapi kau menolaknya dan lebih memilih Jane. Dan dengan terang-terangan kau tunjukkan padanya bahwa kau mencintai Jane disaat dia belum bisa melupakanmu. Itukah yang disebut salah paham?”
Connors menggelengkan kepalanya, berusaha meyakinkan Megan “Tidak, bukan seperti itu. Aku berfikir bahwa Jaclyn sudah…”
Terdengar suara pintu dibuka dari ruangan Jaclyn yang memotong ucapan Connors, muncul seorang dokter tampan berwajah oriental. Dokter itu tinggi dan gagah, tampak seperti seorang atlet daripada dokter. Semua mata kini terfokus pada dokter itu, memandangnya dengan was-was. Sementara si-dokter hanya bisa menghela nafas antara lega dan kecewa.
“Bagaimana dok?, bagaimana keadaan adik saya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah terjadi sesuatu dengan adik saya? Dia,,,dia selamat kan dok?”  Megan menyerbunya dengan serentetan pertanyaan yang membuat sang dokter semakin terlihat resah, dokter itu menundukkan kepalanya tak berani menatap siapapun.
“Adik anda selamat..”
Mereka menghela nafas lega secara bersamaan
“Tapiii, atas semua itu selalu ada akibat untuk sebuah tindakan dan akibatnya adalah..adik anda mungkin akan lumpuh….”
Seakan dihantam palu godam yang bisa meremukkan jantungnya, Megan mengernyit dan memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri dan matanya tanpa aba-aba telah mengeluarkan cairan bening secara beruntun, ikut merasakan nyeri didadanya hingga mengeluarkan air mata. Tidak hanya sampai disitu saja, tubuhnya pun ikut melemah, sulit untuk digerakkan seakan kata-kata dokter itu adalah mantra ajaib yang bisa melumpuhkannya dalam sekejap mata. Dan Megan jatuh, merosot kelantai dengan memegangi dadanya dan air matanya terus mengalir semakin deras membasahi wajahnya.
Bugh!!!, dokter itu tersungkur dengan memegangi wajahnya yang baru saja dipukul dengan keras oleh seseorang dan orang itu adalah Connors, yang menatap dokter dengan emosi yang terpancar jelas dimatanya dan tangannya yang mengepal kuat. “Jangan pernah berkata seperti itu sebelum anda berusaha dok, anda belum berusaha tapi anda sudah menyerah..”
Dokter itu menatap Connors dengan sendu, tak ada pancaran sinar kemarahan dimatanya, sepertinya dokter itu menyadari akan perasaan Connors “Maafkan saya, tapi...memang hanya ini yang bisa saya perbuat. Kasus seperti ini sudah sering terjadi dan semuanya berujung pada akhir yang sama.”
Connors akan merangsek maju, namun dihalangi oleh kedua saudaranya dan melihat hal itu membuat Megan memiliki tenaganya kembali. Megan bangkit berdiri dan menampar Connors sangat keras dengan seluruh luapan emosi yang ia tumpahkan “JAUHI ADIKKU!!, JANGAN PERNAH KAU MUNCUL DALAM HIDUPNYA..” Teriak Megan yang hampir menarik perhatian seluruh warga rumah sakit, dadanya naik turun karena luapan emosi namun dia masih menyempatkan diri meneriaki dan menatap Connors dengan seluruh kebencian yang dia punya. “Aku bersumpah..Selama aku masih hidup, tak akan kubiarkan kau mendekati adikku..” lanjutnya kali ini namun dengan suara yang hampir menyerupai desisan dan Connors hanya diam mematung, matanya menatap lurus kedepan, mencerna setiap kata yang terucap keluar dari mulut Megan dan setelah dia mengerti apa yang diucapkan Megan, dia menatap Megan dengan pandangan tidak percaya dan mengatakan ‘kau pasti bercanda’. Namun Megan benar-benar tidak bercanda, dia kembali berteriak pada Connors dan menyuruhnya pergi.
Connors pulang kerumah dengan lesu, tak punya tenaga hanya untuk sekedar berjalan. Seakan Tuhan telah mencabut nyawanya dan hanya raganya yang tersisa, ia tak mampu lagi untuk hidup. Hidup dengan raga, sementara jiwa-mu telah pergi atau sebut saja sedang berjuang untuk bertahan hidup, sanggupkah ia menjalani kehidupan seperti itu?. Dan jawabannya adalah tidak, bagi Connors ia tidak akan mampu hidup tanpa adanya jiwa yang melengkapi raganya dan saat ini dia tidak bertemu dengan belahan jiwanya, hal itu bagaikan hidup tanpa nyawa dan hidup tanpa nyawa itu adalah mati.
Connors setengah hancur waktu Megan melarang Connors datang menemui adiknya, namun harapan tetap ada lewat kedua adiknya, ia selalu menyuruh salah satu adiknya menjenguk Jaclyn, memberinya perkembangan yang sangat lambat tentang keadaan Jaclyn. Connors tidak pernah berhenti berdoa pada Tuhan demi keselamatan Jaclyn, hingga menghilangnya Jaclyn memutuskan semua harapan Connors.
Connors benar-benar hancur total kala itu. Tidak pernah pulang kerumah, selalu menghabiskan waktunya dijalan hanya untuk mencari Jaclyn namun ia tak pernah menemukannya hingga akhirnya dia menyerah dengan kehidupan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Connors menjalani hidupnya dengan sisa-sisa semangat yang mulai mengelupas seiring berjalannya waktu. Dan dia semakin sadar, bahwa tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan olehnya, bahkan hidupnya saja merasa tidak pantas untuk diperjuangkan. Ya, Connors menghancurkan hidupnya sendiri secara perlahan-lahan dan kedua Orang tuanya hampir putus asa menghadai perubahan sikap Connors yang sangat drastis. Menurut mereka itu tidak masuk akal mengingat bagaimana Connors yang sangat dipercaya oleh Papanya namun sekarang hancur dalam sekejap mata tanpa ada sebabnya. Itu karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak mereka, yang mereka tahu adalah anaknya bahagia atas harta yang diberikan kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya Connors merasakan panggilan jiwa, yang berarti bahwa Jaclyn kembali padanya. Namun dia tetap tidak tahu bahwa Jaclyn semakin mendekat kearahnya, dia tidak pernah sadar akan hal itu karena hatinya yang terlalu dibutakan oleh kabut kesedihan yang menyelubunginya setiap hari.



1
Bunyi dering ponsel yang begitu nyaring sangat mengganggunya, mengganggu kentetramannya yang berusaha menghindar dari keramaian jenis apapun. Semakin ia mengabaikan semakin sering pula ponsel itu bordering, berusaha menarik perhatiannya. Dengan enggan ia mencari keberadaan ponselnya diatas meja sebelah tempat tidurnya yg sangat berantakan, mulai dari perban, berbagai macam jenis obat entah itu terlarang atau tidak, jarum suntik, beberapa pecahan botol, bahkan tetesan  darah yang membasahi beberapa lantai dan sprei.
“Halo..” dengan enggan Connors berbicara tanpa melihat penelfon
“Cepat pulang sekarang juga, ada sesuatu yang mau papa bicarakan..” terdengar suara yang tak terbantahkan dari seberang telfon
Connors mencoba mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih dan menghilangkan rasa sakit kepala yang sangat mengganggunya
“CONNORS!!!..” hampir saja ia melemparkan ponselnya kedinding ketika teriakan papanya sangat memekakkan telinga yang membuat kesadarannya tiba-tiba saja pulih “Pulang sekarang juga, mamamu sudah menunggu dan jangan buat dia kecewa..”
Kesadarannya yang sudah sepenuhnya pulih tiba-tiba dihantam oleh sepatah kata yang dulu ia hormati dan ia sayangi yang hampir terlupakan olehnya. Wanita yang telah berjasa selama ini, yang selalu ada disaat ia susah untuk menghiburnya dan saat ia senang untuk ikut tersenyum bersamanya namun kini rasa sayang itu tidak sebesar dulu lagi, bahkan dia hampir lupa bagaimana rasa sayangnya dulu pada  wanita itu, wanita yang telah membesarkannya.
Connors tersenyum kecut dan tanpa sadar mematikan ponselnya tanpa menjawab telfon papanya.
Hebat, sungguh hebat seorang gadis bisa menghancurkan kehidupannya hanya dalam beberapa waktu bahkan bisa membuatnya kehilangan perasaan, perasaan yang hanya bisa dirasakan ketika menyangkut perempuan itu.
Ia berjalan menuju kamar mandi, mengabaikan rasa sakit di telapak kakinya saat ia menginjak beberapa pecahan botol. Pecahan botol itu menggambarkan bagaimana kerasnya ia melewati malam-malam yang kelam selama ini seakan itulah yang menjadi teman setianya selama ini.
***
Connors mengemudikan mobilnya dengan tenang, namun pikirannya terbang jauh meninggalkan raganya, Samar-samar bayangan perempuan itu muncul diotaknya secara berkala sampai secara jelas muncul diotaknya. Dan seketika itu juga jantungnya bergetar hebat dan terasa nyeri, seakan sesuatu tak kasat mata menyayat jantungnya secara perlahan, membuatnya menepikan mobilnya. Tak cukup sampai disitu, kepalanya-pun ikut berdenyut-denyut hebat seakan seseoranng sedang memukulnya dengan palu. Connors sudah sering mengalami ini sejak dia kehilangan seseorang yang telah mengambil hatinya dan mulai berurusan dengan obat-obat terlarang sehingga rasa sakit ini semakin sering menyerangnya.
Connors membuka dashboard mobilnya dan meraba-raba didalamnya, mengambill sesuatu yang selama ini menjadi pelariannya. Menyuntikkan benda itu ke tangannya dan berangsur angsur sakit itu hilang walaupun efek lainnya akan memperparah kondisinya.
Nafasnya masih memburu walaupun sakit itu sudah hilang. Ia bergumam dalam hati, sampai kapan, sampai kapan ia akan seperti ini, mungkinkah sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Sanggupkah ia menjalani masa hidupnya seperti ini?.
Tiba tiba ia menangkap sosok seseorang yang sedang ia cari, sosok itu berjalan dengan seorang lelaki paruh baya yang agak jauh ditempat Connors menepikan mobilnya. Connors meneliti bahwa ia baik-baik saja walaupun cara bergeraknya sedikit terbata-bata dan perlu penjagaan. Tapi benarkah itu dia? Bukankah dokter bilang bahwa kemungkinan kecil untuknya bisa sembuh walaupun sembuh ia tidak akan sembuh total, pasti akan ada bagian tubuhnya yang harus dikorbankan. Tapi tidak seharusnya juga Connors mengharapkan sesuatu yang buruk bagi gadis itu, yang penting ia harus memastikan bahwa itu memang benar-benar gadis yang telah lari darinya.
Gadis itu masuk kedalam sebuah mobil, dan Connors mencoba mengikuti mobil itu hanya untuk memastikan apa yg dilihatnya.
Tiba tiba ponselnya berdering, ia mencoba mengabaikannya dan berkonsentrasi untuk mengikuti mobil itu yang melaju dengan cepat dan begitu lihai dalam mendahului beberapa mobil dijalan yang sangat ramai. Namun ponsel itu terus berdering, maka ia meraba-raba dikursi sebelahnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya mencoba mematikan ponselnya tanpa berniat untuk menjawab telfon. Ketika ia hampir berhasil mendapatkannya, ponsel itu malah jatuh dibawah kursi mobilnya yang terpaksa membuatnya menunduk untuk mengambilnya dan mengalihkan perhatian sementara dari jalan. Ia melihat ponselnya dan tertera nama papanya disana, Connors langsung mematikan ponselnya dan melamparkannya begitu saja lalu kembali memandang jalan “Shiit!!!” umpatnya ketika melihat seorang pejalan kaki lewat didepannya, Connors langsung membanting setirnya dan menabrak trotoar.
***
“Bagaimana Pa? Dia jadi kesini kan?” Wanita setengah baya itu menatap suaminya dengan cemas sementara sang suami tak berani menatap mata istrinya, ia tak tega melihat harapan yang terpancar dimata istrinya.
“Dia tidak mengangkat telfonnya Ma..”
“Ya Tuhan!!!, semoga dia baik baik saja” kata wanita itu sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak dan kepalanya terasa pusing luar biasa hingga kesadaran merenggutnya
“Mama!!!!..” teriak suami dan anaknya secara bersamaan
Sang suami langsung menggendong istrinya menuju kamar diikuti dua anaknya dibelakang dan berteriak memanggil pembantunya dengan panik..
“Iya tuan??” tanya pembantunya dengan panik tak lama kemudian karena mendengar teriakan tuannya
“Tolong hubungi dokter Hendra sekarang..” ucapnya tanpa melihat pembantu karena dia sibuk dengan ketakutannya akan istrinya.
“Baik tuan..” pembantu itu langsung berlari meninggalkan mereka
“Pa...” Riley memegang pundak papanya yang sedang berlutut memegang tangan istrinya dengan cemas
Papanya langsung berdiri menatap kedua putranya, masih terlihat jelas kecemasan didalam matanya. Pandangan itu membuat hati Riley merasa sedikit sakit, betapa papanya sangat mencintai mamanya sehingga ketika mamanya pingsan  membuatnya ketakutan setengah mati “Pa..Biar aku saja yang menggantikanya..”
“Apa maksudmu nak? Semua itu sudah direncanakan untuk Connors..”
“Tapi pa..Dia bukan dirinya, dia sedang dalam keadaan kacau...”
Papanya menghela nafas berat, tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap putra sulungnya yang berubah drastis. “Mungkin....”
Tiba tiba muncul sosok Connors diambang pintu dengan keadaan kacau dan nafas yang memburu. Kepalanya berdarah dan menetes hingga pipinya, bahkan dibajunya juga ada sedikit tetesan darah.
Amarah papanya tersulut begitu saja ketika melihat Connors, papanya langsung menarik kerah kemejanya dan menyeretnya keluar dari kamar diikuti oleh Riley, sementara Toby tetap disana menjaga mamanya karena ia merasa tak berhak ikut campur urusan mereka.
“Dasar anak durhaka..!!.” papanya langsung berteriak dan matanya berkilat marah, ia melirik kepala Connors yang berdarah dan langsung memukul Connors dengan sekuat tenaga hingga ia terjungkal dan berdarah disudut bibirnya “Apa yang kau lakukan? Berkelahi? Ngebut dijalan? Mabuk?..Papa tak habis fikir, apa sebenarnya yang membuatmu berubah??” papanya mengusap rambutnya gemas, merasa putus asa menghadapi sikap putra sulungnya “Kau tahu selama ini mama-mu selalu mencemaskan-mu karena kau tidak pernah pulang, dia ingin sekali bertemu dengan anaknya, dan hari ini kau mengecewakannya..”
“Papa dan Mama tak perlu mencemaskanku..” Ia berdiri sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah “Aku tidak akan mempermalukan keluarga, aku hanya butuh waktu untuk..”
“Butuh waktu untuk apa? Untuk lari dan sembunyi?” potongnya
“Bukan urusan Papa...” balasnya cepat kemudian melirik Riley sekilas
“Baik...Papa tidak akan mencampuri urusanmu. Papa dan mama hanya minta satu hal..”
Connors mengerutkan kening ketika mendengarnya, kenapa papanya menyerah begitu saja?. Connors mengira bahwa papanya akan terus mendesaknya untuk mengetahui apa yang membuatnya berubah, bahkan Connors sudah mempersiapkan diri jika nanti harus babak belur oleh papanya.
“Papa ingin kamu memulai masa depan dan menjadi bertanggung jawab dengan istri dan calon anakmu nanti...”
“Ma..Maksud papa, papa dan mama ingin aku menikah??”   Connors menatap papanya  penuh tanda tanya
“Ya..” Papanya mengangguk lemah “Dan papa sudah punya calon untukmu, besok mereka akan datang kemari untuk membahas kelanjutannya..”
Connors tak bisa berkata-kata, terlalu kaget dengan permintaan papanya yang terasa aneh dan terlalu kekanak-kanakan. Apakah papanya terlibat hutang besar sehingga menjualnya? Tapi selama ini papanya tak menunjukkan tanda-tanda kebangkrutan. Lalu untuk apa?.
Seakan bisa membaca fikiran Connors “Papa tidak berniat untuk menjualmu atau apa, tapi papa hanya ingin mempererat persahabatan papa..”
“Tidak pa...” Connors menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan melirik Riley maupun papanya secara bergantian “Connors sudah punya jalan sendiri..”
“Jalan?” Papanya bertanya dengan nada yang sedikit tinggi “Jalan hidup seperti apa yang kau maksud? Seperti itukah masa depanmu? Mabuk-mabukan, narkoba dan bermain wanita, itu masa depanmu? Itu yang membuatmu bahagia?”
Connors akan menjawab ketika datang seorang pembantu secara tiba-tiba, mengalihkan perhatian mereka semua.
“Tuan, dokter Hendra sudah datang..” Ucapnya pelan dengan nada sedikit ketakutan karena merasa mengganggu pembicaraan tuan besarnya.
Tanpa menoleh lagi papanya langsung meninggalkan Connors dan Riley ditempat itu, diikuti pelayannya
Riley menatap Connors tajam “Kenapa kau menolak perjodohan itu? Kau mau mempermalukan papa dan mama?” tanyanya tajam
Connors balas menatap Riley tajam “Kau tahu kalau aku belum bisa menerima perempuan lain dan kau tahu terakhir kalinya aku mencintai seseorang membuatnya hampir kehilangan nyawa.”
Riley menghela nafas berat, menyerah dengan sikap kakaknya yang mencoba keras melupakan seorang perempuan dan rasa bersalah yang selalu menghantuinya “Lalu sampai kapan kau akan seperti ini? Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini, itu akan menghancurkanmu secara perlahan..”
“Aku tak tahu,, aku tak tahu apa yang harus kulakukan..” pandangannya berubah menjadi kalut dan dipenuhi rasa bersalah “Kau tahu aku takut waktu dia dirawat, dan rasa bersalah mengahantamku ketika kemungkinan besar dia akan lumpuh ketika sembuh bahkan aku hampir gila ketika dia dibawa pergi oleh kakaknya dan aku putus asa karena tak menemukannya. Lalu sekarang semudah itu menurutmu untuk menerima gadis lain disaat kau sedang kacau?”.
Riley menepuk pundak kakaknya pelan, mencoba menenangkan dan menghiburnya walaupun ia tahu tak bisa mengubah kondisi kakaknya “lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?”.
Connors menatapnya dengan mata sedikit berbinar, namun tetap tak bisa menutupi kekalutan dimatanya “aku ingin kau menggantikanku dalam perjodohan itu..”.
Riley membelalakkan matanya lebar, kaget dengan ucapan kakaknya. Walaupun ia sudah mengantisipasi hal ini tapi tetap saja terasa mengejutkan ketika kakaknya yang memintannya daripada ia menawarkan diri. “La…Lalu apa rencanamu???”.
“Aku akan menunggunya, aku akan menunggunya datang padaku..”.
Sekali lagi, Riley dikejutkan oleh ucapan kakaknya yang menurutnya terlalu pasrah dengan keadaan “Kau gila??!” teriaknya geram “Bagaimana kalau dia tidak datang? Kau akan tetap menunggunya dengan berkelakuan seperti itu?”  Riley menatap Connors yang tampak bingung dengan pertanyaannya “Mati-lah kau sebelum sempat bertemu dengannya..!”.
Connors tersenyum, seakan Riley baru saja mengusulkan sebuah ide yang bisa menyelesaikan masalahnya “Yaah, setidaknya aku telah menunggunya dengan setia!!”
“Kau Gilaaa!!!” Riley berjalan menjauh dari Connors “Datang saja besok diacara makan malam, kau akan melihatku bertunangan dengan gadis itu..”
***
Connors mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia sudah sangat terlambat untuk datang keacara itu. Ia merutuki dirinya yang selalu datang terlambat, padahal ia sudah mempersiapkan semuanya dari awal tapi tetap saja tak bisa tepat waktu.
Tiba tiba firasat buruk menghampirinya, entah datang darimana tapi firasat itu menusuknya dalam dalam hingga membuatnya mengernyit ketika merasakan sakit.
Hingga akhirnya dia sampai dirumah orang tuanya. Dia melihat sebuah mobil yang tak asing baginya terparkir dirumah orang tuanya namun itu tidak penting, yang terpenting ia harus segera masuk dan menampakkan diri disana sebagai bagian dari keluarga Mcdonough.
Connors memasuki rumahnya dan langsung disambut oleh Toby dengan ekspresi yang tak bisa didefenisikan, campuran antara kecewa dan heran “Kau akan menyesal telah membatalkan pertunangan ini..” begitulah kata sambutan yg diterimanya dari Toby
Connors menatap Toby dengan bingung, kemudian dia ingat tujuan utamanya datang kesini “Dimana Mama dan Papa?, emm…dan Riley tentunya”
“Mereka semua ada didalam.”
Kemudian Connors masuk kedalam ruang tengah yang megah itu, disana semuanya telah duduk dan sedang bercanda ria. Dia melihat Riley yang duduk berhadapan dengan seorang gadis, Riley tampak memandang gadis itu dengan tajam namun gadis itu hanya menunduk. Tapi ada sesuatu dari gadis itu yang menarik perhatiannya dan menyadarkannya dari sebuah mimpi dan kenyataan yang menamparnya. Gadis itu yang membuatnya putus asa karena kehilangannya, permata berharga selama ini yang berusaha dicarinya dan bagian dari hatinya yang hilang. Gadis itu pergi membawa separuh hatinya dan sekarang dia datang secara mengejutkan, dia datang untuk memberikan hatinya kembali yang dibawanya tapi Connors menolaknya mentah-mentah dan menyerahkan pada adiknya. Pantaskah dia mengambil kembali yang seharusnya menjadi miliknya dari adiknya karena pemberiannya?
“Connors?” panggilan itu menyadarkannya dari lamunan.
Secara bersamaan, semua orang yang ada disitu langsung menoleh dalam hitungan detik dan Connors langsung bertatapan dengan gadis itu cukup dalam sehingga mereka berdua tidak menyadari tatapan dari orang yang ada disekitarnya.
Connors melihat ke-kedalaman mata hitam itu lagi, sudah lama ia merindukan mata itu bahkan ia mendambakannya, mendambakan mata hitam itu menatapnya dengan gugup tiap kali saling bertatapan, merindukan tubuh ramping itu yang dipeluknya dengan hangat saat terakhir kali mereka bertemu.
“Kau mau bergabung dengan kita nak?” suara itu kembali menyadarkannya, suara dalam yang berwibawa milik papanya mengalihkan tatapannya.
Connors mengangguk, kemudian mengambil duduk disebelah Riley. Ia memang sengaja melakukannya karena ia tak ingin jauh dari gadis itu.
“Hei, aku ingin bicara..” Riley berbisik ditelinganya kemudian berdiri dan berpamitan pada yang lain, disusul oleh Connors yang sedikit merasa kesal karena baru ia akan menikmati suasana ketika adiknya ingin mengajaknya bicara.
Riley menghela nafas berat ketika akhirnya mereka berdua bisa menjauh dari tekanan. Ia menatap Connors yang juga menatapnya dengan tangan bersedekap, kemudian memejamkan matanya sejenak dan menghimpun seluruh kekuatannya untuk mengatakan kalimat yang begitu mengganjal dihatinya “Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini?”
Connors menatapnya dengan tatapan yang sedikit menantang “Tentu saja mengambil kembali hak milikku.!” Katanya dengan intonasi yang menunjukkan kalau dia tidak mau dibantah.
“Bagaimana dengan papa dan mama? Mereka sudah terlanjur mengatakan bahwa aku yang akan menikah dengan Jaclyn bukan KAU!!” Riley menekankan kata Kau dengan nada yang sedikit tinggi
“Aku akan berusaha untuk mendapatkannya, dengan cara apapun itu!!” dominan kata yang menunjukkan bahwa dia akan merebut Jaclyn membuat Riley marah karena Connors yang menurutnya bersikap semaunya sendiri.
Riley tersenyum miring kearah Connos, sebuah senyum sinis “Bagaimana kalau aku tidak akan melepaskannya?”
Connors mencengkeram jari-jarinya sendiri, hingga terlihat oto-otot dibagian tangannya, rahangnya mengeras dan giginya bergetar menahan amarah yang tersulut hanya karena pertanyaan Riley yang menantangnya “Maka kita akan bersaing..!!!”
2
Minuman itu ditenggaknya hinga tak tersisa, mengalir ditenggorokannya bagaikan madu yang terasa sangat manis dan menenangkan. Connors sudah menghabiskan beberapa botol minuman namun dia tetap belum puas, hatinya belum tenang. Tapi itu sudah menjadi kesehariannya dengan perasaan yang tak pernah tenang sejak menghilangnya Jaclyn, namun kali ini berbeda, dia seperti merasa kehilangan gairah untuk hidup. Connors melihat kearah lantai dansa yang sedikit gelap, penuh sesak dan ramai. Banyak wanita cantik dan beberapa pasangan namun dia tidak tertarik pada wanita cantik dan seksi yang sedang memandangnya penuh minat, ia benci wanita murahan. Connors memang suka datang ketempat disko ini tapi bukan untuk bermain seks dengan wanita-wanita itu, melainkan untuk menghabiskan waktu dengan minuman beralkohol, Connors bukanlah penggila seks jadi dia hanya bercinta dengan wanita saat ia benar-benar kacau dan sekarang dia memang benar-benar kacau luar maupun dalam dengan keadaan rambut acak-acakan, kemeja yang kusut dan berantakan, hati dan pikiran yang sedang kalut dan kepalanya yang sangat pusing seakan ingin pecah. Ia akan meminum minumannya lagi ketika seseorang tiba-tiba memegang pundaknya dan membuatnya mengalihkan perhatian dari minuman beralkohol itu. Connors melihat wanita berambut pirang berpakaian yang menggoda, bibir yang sangat ranum dan mata hitam yang penuh dengan pesona datang kearahnya.
“Jaclyn??” itulah kata yang terucap pertama kali saat melihat wanita itu
Connors langsung menyerangnya dengan bibirnya, dipenuhi gairah dia melumat bibir wanita itu bahkan tidak memberikan kesempatan kepada siwanita untuk membalas ataupun menolak, dan wanita itu tidak ada tanda tanda akan penolakan ciuman dari Connors, justru menunjukkan bahwa wanita itu sangat menikmati ciumannya. Wanita itu seolah tak mau kalah, ia mengalungkan tangannya pada leher Connors sehingga memperdalam ciumannya bahkan beberapa kali wanita itu menggigit bibir Connors membuat Connors mengerang dan semakin mendekatkan wanita itu kearahnya. Mereka berciuman dengan sangat panas bahkan mereka lupa diri dan hampir saja Connors menanggalkan rok pendek wanita itu didepan umum
“Tidak disini sayang..” wanita itu mengelus jemari Connors yang mencoba melepas roknya dan menariknya menjauh dari keramaian..
Connors mengikuti langkah wanita itu menuju sebuah kamar yang sudah disiapkan dengan lampu yang sedikit temaram namun suasana yang begitu menggoda. Wanita itu mengunci pintunya dan menarik Connors menuju ranjang dengan dia yang tidur dibawahnya. Dia kembali mencium Connors dengan sangat menggoda, tidak hanya bibir, tangan dan kakinya pun ikut bergerilya. Tanganya menelusup kedalam kemeja Connors dan membuka kancing kemejanya satu persatu sembari mengelus kulit lembut Connors dan kakinya bergelung dipinggang Connors, sesekali dia mengangkat pinggulnya dan mencoba menggoda yang ada dibawah sana. Meskipun tidak mendapat respon dari Connors dia tidak mau menyerah. Dia berhenti mencium Connors, beralih menatap matanya, menatap kedalaman mata azure yang sangat indah. Sejenak dia terkagum dengan ciptaan Tuhan yang begitu indah, Connors begitu sempurna, sedangkan wanita yang akan mendampingi hidupnya kelak pastilah wanita yang sempurna pula. Siapa yang tidak mengenal Mcdonough bersaudara, mereka diberkahi ketampanan yang luar biasa dan sungguh beruntung jika dia menjadi pendamping hidup salah satu dari mereka. Tidak, seharusnya dia tidak berangan-angan sejauh itu, Connors memilihnya untuk menemani malamnya saja sudah beruntung, Connors tidak mungkin melakukan lebih pada seorang pelacur sepertinya.
“Tatap aku sayang..” wanita itu mengarahkan pandangan Connors yang mulai tidak focus kearahnya, menyuruh untuk menatapnya.
Pandangan Connors tidak bisa focus, dia sulit menemukan mata wanita itu. Sampai jemari wanita itu mengelusnya dan mengarahkannya pada mata hitam milik wanita itu. Connors menatapnya dan kembali mendapatkan mata hitam yang indah memandangnya. Namun kali ini berbeda, mata hitam itu menatapnya dengan begitu menantang dan berkabut penuh dengan gairah, bukan mata hitam yang menatapnya dengan lembut dan gugup namun penuh pesona. Jemari itu kembali membelainya dengan penuh kelembutan dan sangat ahli, membuat Connors mengerang dan tidak bisa menahan diri.
***
            Connors merasakan ada tangan seseorang yang memeluknya, dan sesuatu bersentuhan dengan kulit tubuhnya. Dia melirik kesampingnya, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati seseorang sedang tidur telanjang disampingnya dan memeluknya. Connors segera bangun dan melompat dari ranjang dan tidak menyadari bahwa dia juga telanjang. Hal itu membuat selimut yang melingkupi gadis itu merosot sampai lututnya  dan memperlihatkan tubuh wanita itu yang terekspos begitu saja. Merasakan ada sesuatu yang menganggu tidurnya,wanita itu bangun dan tersenyum melihat Connors yang terlihat begitu tergesa-gesa memakai kembali pakaiannya.
“Kenapa kau begitu terburu-buru, kau tidak ingat betapa begairahnya kau terhadapku tadi malam?”  wanita itu sengaja mengatakannya dengan begitu sensual, membuat Connors berbalik dan menatapnya.
Cantik, dia cantik seperti wanita Arab latin dengan mata hitam yang indah, itulah pikiran pertama yang terlintas dibenaknya. Connors sempat terjebak dalam mata hitam yang indah itu, pertama kali melihatnya dia mengira bahwa wanita itu adalah Jaclyn, itu terjadi karena dia dalam keadaan mabuk. Connors kembali teringat ketika kesadarannya mulai kembali dan mengetahui bahwa wanita itu bukan Jaclyn, namun wanita itu tidak mau mundur, dia tidak mau melepas Connors begitu saja, dia menggoda Connors dengan begitu ahli dan memanfaatkan mata hitam indahnya untuk menjebak Connors. Dia cantik, baru pertama kali ini Connors memuji seorang pelacur dan baru kali ini dia menemukan seorang pelacur berwajah Arab latin, itu membuatnya berbeda, berbeda dari yang lain.
Wanita itu kembali tersenyum  ketika mendapati Connors yang memandangnya begitu lama, dia tahu bahwa Connors sedang menilainya “Mau bercinta lagi denganku?” tanyanya dengan nada sensual
Connors bergidik “Dalam mimpimu..”
Wanita itu tertawa, kemudian menatap Connors dengan senyum khasnya “Suatu kehormatan seorang Connors Mcdonough memilihku untuk menemani malamnya dan aku akan merasa tersanjung jika kau memilihku sebagai pendamping hidupmu..”
Connors sempat kaget saat wanita itu mengenalinya namun Connors sangat pandai menyimpan mimic wajahnya jadi siapapun yang melihat tidak akan menyadarinya “Kau gila!!” ucapnya setelah melihat kerutan dikening wanita itu.
“Kita akan segera bertemu kembali sayang..” Ucapnya dan diakhiri dengan tawa yang keras setelah Connors pergi dan menutup pintu kamar dengan keras.
***
“Dasar wanita gila..!” berkali-kali dia mengumpat dalam mobil setelah kejadiannya dengan wanita itu, entah mengapa Connors terus membayangkan wanita itu, seakan wajah itu tak asing baginya. Tapi siapa? Dan kenapa wajahnya begitu membekas diingatan Connors?
Kembali, dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Dia melihat nama ‘Ruselly’ diponselnya
“Bagaimana?” kalimat pertama Connors yang diucapkannya
“Ehm..Sudah kudapatkan infonya..” terdapat jeda dalam telfon itu, Connors menunggu dengan sangat cemas “Dia mempunyai saudara bernama Megan Davies dan Ayahnya bernama William Davies...”
“Lewatkan informasi itu”. Potong Connors geram
“Sementara hanya itu yang kami dapat..”
Connors memukul kemudi mobilnya tanpa sadar “Ruselly, aku membayarmu untuk…”
“Ah,ya dan satu lagi, dia mempunyai ibu bernama Elsa Davies. Dikatakan dia meninggal dalam suatu peristiwa tak lama setelah melahirkan anak kedua..”
Connors sedikit tercengang mendengarnya, dia tak pernah menduga sebelumnya “teruskan..”
“Tapi ada hal lain yang harus bos ketahui. Kami mendapat data  bahwa ada 1 orang yang belum kami ketahui, tapi dia tercantum dalam daftar keluarga William Davies, dia bernama Iliana Faulst.”
“Kabari aku jika ada hal terbaru..” Connors akan menutup telfonnya ketika Ruselly kembali bersuara
“Kami membutuhkan kunjungan disini, aku tidak bisa menangani semuanya sendirian. Aku masih membutuhkan bimbingan anda, dan seorang remaja beranjak dewasa sepertiku tidak bisa menangani tanggung jawab besar atas perusahaan itu.” Ucapnya yang menurut Connors terdengar seperti orang putus asa karena beban hidup yang berat.
Connors memang salah, membebankan tanggung jawab besar pada Ruselly yang seharusnya dia gunakan waktunya untuk bersenang-senang. Tapi ketika Ruselly datang pertama kali, ia terpesona dengan kemampuannya, ia tak pernah mengira anak sekitar 18tahunan mempunyai kemampuan sehebat itu. Dengan Ruselly, ia merasa tenang memberikan tanggung jawab perusahaannya. “jika semuanya sedikit membaik, aku akan datang berkunjung dan aku berjanji suatu saat kau akan bebas menikmati hidupmu..”
Terdengar helaan nafas diseberang sana “kau mengobral janjimu padaku ribuan kali bos. Aku membayangkan bagaimana kekasihmu yang selalu kau berikan obralan janji tapi tak pernah kau tepati..”
Connors tersenyum tanpa sadar, kemudian tertawa sedikit keras “aku hanya mengobral janjiku padamu nona Hartawan.” Kemudian Connors menutup telfonnya dan tersenyum kembali membayangkan wajah Ruselly disana.
Kekasih? Connors tersenyum getir menyebut kata itu. Ia tak pernah benar-benar merasakan bagaimana cinta, semua cinta yang pernah ia berikan pada kekasihnya dahulu adalah bukan benar-benar cinta yang sesungguhnya. Semua itu hanya ego semata yang tidak benar-benar harus untuk diperjuangkan. Namun kali ini, sejak ia bertemu Jaclyn, ia benar-benar telah mengerti artian cinta yang sesungguhnya, yang tidak pernah ia dapatkan pada kekasih sebelumnya. Jaclyn pantas untuk diperjuangkan dan apapun yang terjadi ia akan mempertahankan Jaclyn untuk tetap menjadi miliknya.
Jaclyn? Apa yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu dan dimana sekarang dia tinggal?. Riley!, dia pasti tau alamat Jaclyn.
“Riley!!!” teriaknya, ketika sudah sampai dirumahnya dan melihat keadaan rumah yang cukup sepi
“Hei!!, kau sangat menggangguku.” Muncul Toby dibalik sofa dan melepas satu headset ditelinganya
“Dimana Riley?”
“Dia sedang menemui tunangannya..” ucapnya tanpa melihat perubahan raut muka Connors
“Siapa?” Tanya Connors untuk memastikan bahwa bukan orang yang dia cari
“Dia hanya bertunangan dengan satu orang kak dan sudah pasti itu Jaclyn.” Jawab Toby tenang namun kali ini ia melihat perubahat raut muka Connors yang berusaha ia tutupi agar terlihat tenang didepan adiknya.
Toby sedikit tegang melihat raut muka Connors, kira-kira apa yang ada dipikirannya sehingga bisa membuat wajah tampan itu berubah menjadi menakutkan?, dan apa yang akan dilakukannya pada Riley setelah mereka bertemu?, apalagi ada Jaclyn ditengh-tengah mereka. “Emm...Kakak akan menemuinya?” tanyanya dengan sangat hati-hati, takut mengganggu ketenangan hatinya yang sudah terusik
“Kau tau alamatnya ??”
Toby mengangkat satu alisnya “Kakak tidak tau dimana dia tinggal?” tanyanya sedikit heran, mengapa kakaknya yang sangat menggilai Jaclyn tidak tau dimana alamat rumah Jaclyn
“Tidak..” jawabnya datar
“Kakak tidak tahu apa apa tentangnya?”
Kali ini berganti Connors yang mengangkat satu alisnya”Apa maksudmu?”
“Maksudku kakak tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah kecelakaan itu?”
Connors menatap Toby dengan serius, menandakan bahwa ia memang tidak tahu apa-apa dan Toby benar-benar tidak menduga hal ini, kemudian ia mulai bercerita ketika Jaclyn dibawa pergi oleh kakaknya untuk pulang kenegaranya dalam keadaan kritis, kakaknya terpaksa membawa Jaclyn pergi untuk menjauh dari mereka bertiga dan ketika Jaclyn sudah sembuh, dia kehilangan sebagian ingatannya yang artinya Jaclyn tidak akan mengenali mereka bertiga dan bisa saja melupakan perasaannya pada kakaknya Connors. Dan perusahaan Ayah Jaclyn yang mulai mengalami kebangkrutan, hingga ia meminta bantuan kepada Papa mereka untuk membantu agar Jaclyn dan keluarganya tidak sampai jatuh miskin dan terlantar. Dan sebagai balas budi Ayah Jaclyn menawarkan sebuah pernikahan untuk Jaclyn dan salah satu anak Papanya untuk mempererat hubungan persahabatan mereka. Papanya memilih Connors karena waktu itu Connors adalah anak kepercayaan Papanya yang digadang-gadang akan mewarisi separuh dari perusahaan Papanya yang sedang ia jalankan namun bukan berarti Papanya tak mempercayai 2 putranya, hanya saja waktu itu Toby masih terlalu kecil untuk dibebani tanggung jawab itu dan kakaknya Riley menolak karena dia bilang tidak berbakat untuk menjadi seorang pengusaha sampai akhirnya Connors menghancurkan kepercayaannya dan Papanya mencabut semua asset yang diberikan kepadanya dan Connors juga secara sadar menyerahkan Jaclyn pada Riley.
Connors ternganga mendengarnya, ia tidak tahu dan tidak menduga bahwa Jaclyn mengalami amnesia, pantas saja waktu itu Jaclyn seperti tidak mengenali mereka, kalau saja Jaclyn tahu mungkin ia enggan untuk bertemu keluarganya ketika mendengar namanya atau mungkin menjerit ketakutan ketika bertemu dengannya. “Lalu dimana Mama dan Papa sekarang?”
“Papa sedang ada urusan bisnis juga menghadiri pernikahan dokter Hendra, dia berangkat keIndonesia kemarin malam.”
“Bersama Mama?”
“Yaa, Mama bilang merindukan tanah kelahirannya. Jadi mereka akan tinggal beberapa minggu.”
***
Dia mengendarai mobilnya menuju alamat yang telah diberikan Toby. Disepanjang jalan, pikirannya terbang kemana-mana. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, apakah kakak Jaclyn tahu tentang perjodohan ini? Bagaimana reaksinya jika dia tahu, akankah ia berbuat nekat seperti saat Jaclyn dirawat dengan membatalkan perjodohan ini dan meyakinkan Jaclyn bahwa yang akan dinikahinya adalah orang jahat yang mencelakainya? Dan bagaimana jika ingatan Jaclyn kembali, akankah dia berteriak histeris dan ketakutan ketika tahu siapa yang akan dinikahinya? Dan yang terpenting bisakah ia bersaing dengan adiknya sendiri untuk mendapatkan Jaclyn?
Tiba tiba ia teringat Ruselly. Apakah dia bertemu dengan Papanya disana? Karena perusahaannya adalah perusahaan terbesar dinegara itu dan memberikan kontribusi terbesar juga bagi Negara itu, jadi jika ada proyek besar pasti pihaknya akan diundang.
Sosok gadis bertubuh mungil dan berambut pirang mengalihkan pikirannya, dilihatnya sosok itu sedang menunggu sesuatu dengan menenteng beberapa tas belanja. Ia langsung menghentikan mobilnya tepat didepannya dan membuka kaca jendela mobilnya.
“Jaclyn!!.” Sapa Connors yang ditanggapi dengan diam oleh Jaclyn
Bodohnya Connors, dia lupa bahwa Jaclyn mengalami amnesia yang tentu saja tidak mengenalinya dan waktu makan malam itu ia tidak sempat memperkenalkan diri pada keluarga Davies.
Connors turun dari mobilnya dan mendekati Jaclyn, dilihatnya Jaclyn tampak sedikit gelisah ketika Connors mendekat. Sedikit rasa kecewa ketika reaksi itu yang didapatkannya dari Jaclyn, benarkah yang dibilang Toby bahwa mungkin Jaclyn sudah melupakan perasaannya pada Connors dan yang teringat olehnya hanya kejelekan Connors? “Ka..kau Jaclyn?” tanyanya hanya untuk membuat Jaclyn merasa tenang
Ya, Jaclyn memang tidak segelisah tadi walaupun sedikit kerutan terlihat di dahinya “ya benar.” Ucapnya sambil mendongak menatap mata azure, mata yang indah dan menyejukkan.
Connors tersenyum dan menjabat tangan Jaclyn begitu saja “Aku Connors McDonough..”
Jaclyn membelalakkan matanya lebar “Kau kakak Riley.?” Tanyanya masih dengan ekspresi sama
“Ya..” Connors tersenyum lebar mengetahui bahwa Jaclyn mengenalinya walau hanya sebagai kakak Riley. Jaclyn mengenalnya saja sudah membuat hatinya menghangat, mencairkan suasana hatinya yang beku karena kepergiannya. Dia yang membekukan dia pula yang mencairkannya dan Connors berharap hatinya akan selalu seperti sekarang, tidak beku dan tak tersentuh yang artinya dia harus memiliki Jaclyn untuk selalu menghangatkan hatinya. “Mau pulang?” Connors tersadar dari pikirannya “Bagaimana kalau aku mengantarmu?, kau juga nanti akan jadi adik iparku, jadi aku harus memastikanmu baik-baik saja.”
Blush, Pipi Jaclyn memerah begitu saja. Tampak semakin manis jika dia blushing “Boleh” ucapnya sambil tersenyum malu-malu
Connors segera membukakan pintu penumpang dan mempersilahkan Jaclyn masuk, kemudian dia berputar untuk duduk dibalik kemudi. Mereka lalui waktu perjalanan mereka dalam diam, tak tahu apa yang harus dibicarakan. Connors selalu mencuri pandang kearah Jaclyn namun Jaclyn tak melihat kearahnya, dia melihat keluar jendela sehingga seakan sikap Jaclyn menyingkur dari Connors tapi lebih baik seperti ini, memperkenalkan diri sebagai kakak Riley dan dengan perlahan-lahan ia akan mengambil kembali Jaclyn.
“Emm. Bagaimana kabar kakakmu? Aku tidak melihatnya kemarin saat pertunangan kalian?” Connors tidak bisa menahan untuk tahu dimana kakak Jaclyn berada karena jika dia ada didekat Jaclyn, sudah pasti dia akan menjadi penghalang bagi Connors
Jaclyn tampak sedikit terkejut ketika menoleh kearah Connors “Dia pulang kerumah suaminya..”
“Dia sudah menikah?”
“Hm.” Jawab Jaclyn sedikit lesu
“Lalu bagaimana dengan kariernya?”
“Dia akan melanjutkan karier musisinya disana bersama suaminya..” kali ini Jaclyn memandang Connors dan Connors mendapati tatapan yang sedikit sendu dari mata hitamnya
            Sayang sekali, padahal mereka berdua sangat cocok ketika konser bersama, mereka bisa melengkapi kekurangan satu sama lain tapi seharusnya itu menjadi kabar bagus bagi Connors karena dengan tidak adanya kakak Jaclyn maka dia akan sedikit dengan mudah mendekatinya.
            Tak lama kemudian mereka sampai dirumah Jaclyn. Connors keluar terlebih dahulu untuk membukakan pintu dan membawakan tas belanjaan Jaclyn namun langkah mereka terhenti ketika sampai dipintu , terutama Connors yang berdiri mematung sambil menatap dengan mata membulat
“Riley?.” Gumam Connors pelan
Riley menatap Connors dengan tak kalah terkejutnya, keduanya sama-sama berdiri mematung saling menatap dengan mata membulat hingga Ayah Jaclyn memecah ketegangan diantara mereka “kau sudah pulang nak?”
“Ya Ayah, kakak Riley yang mengantarku..” Ucap Jaclyn memperkenalkan Connors dan membuat mereka berdua tersenyum sedikit canggung kearah Ayah Jaclyn
Mendengar statusnya disebut, Connors tersenyum lebar dan menjabat tangan  Ayah Jaclyn “Connors Om.” Katanya dengan sumringah dan tak lepas senyum lebar menghiasi bibir tipisnya kemudian melirik Riley sekilas yang berada disampingnya.
“Oh ya, saya pernah mendengar-mu dari papamu.” Ucap Ayah Jaclyn sambil balas tersenyum kearah Connors
“Benarkah?” tanya Connors antusias, tak menyangka bahwa Papanya akan menceritakannya pada rekan bisnisnya
“Ya, kau pewaris setengah dari perusahaan Papa-mu kan?, nama-mu sering muncul di dunia bisnis..”
Riley tersenyum kecut “Dan perusahaan Papa sudah di alih namakan atas nama saya..” katanya menyela ucapan Ayah Jaclyn
“Oh.. Tentu” Balas Connors dengan sengit “Kita lihat berapa lama perusahaan Papa akan bertahan..”
Riley menatap Connors dengan sengit, tak peduli dengan Ayah Jaclyn yang sedang memperhatikan mereka “Keputusan Papa untuk mengambil alih perusahaannya dari tangan seorang pemabuk sudah sangat tepat. Aku tidak bisa membayangkan seorang pemabuk memegang kendali atas perusahaan besar..”
“Dan aku melihat adanya seorang penghianat dalam keluarga Papa...” Connors balas menatap Riley dengan sengit
“Siapa yang kau maksud?” tanya Riley yang dengan terang-terangan menunjukkan emosinya didepan Ayah Jaclyn
“Kenapa kau marah?” Ucap Connors santai namun tetap ada nada sinis didalam kalimatnya “Aku tidak menyinggungmu Adikku tersayang” Connors menekankan kata ‘adikku tersayang’ sambil mendekat kearah Riley dan berbisik tepat didepannya
“Ehm. Kalian mau makan?”  Tanya Ayah Jaclyn berniat memisahkan pertikaian yang mungkin akan terus berlanjut diantara mereka berdua “Mungkin Jaclyn bisa memasakkan sesuatu untuk makan bersama”
“Tidak perlu Om, saya tidak mau dekat-dekat dengan seorang pemabuk..”
“Dan saya juga tidak ingin dekat-dekat dengan seorang penghianat..”
Keduanya berpamitan pada Ayah Jaclyn dengan kekesalan yang dipendam masing-masing, sementara Ayah Jaclyn hanya bisa menggeleng-nggeleng melihat kelakuan mereka berdua, tak menyangka bahwa kakak-beradik yang satu itu tidak bisa akur ketika bertemu, sama seperti Jaclyn dan Megan dahulu yang tidak pernah akur waktu kecil. Namun ketika mereka dewasa, terutama saat Ibu mereka meninggalkan mereka untuk selama-lamanya dan menikahnya Megan membuat mereka berdua belajar banyak hal. Tapi tidak ada yang bisa diperbuat oleh mereka berdua sekarang, terpisah oleh jarak sebelum sempat berdamai dengan ego masing-masing, tidak pernah akur ketika bertemu namun memendam rasa sayang yang besar jauh dalam lubuk hati mereka masing-masing.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar